<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>PUSKOWANJATI</title>
	<atom:link href="http://www.puskowanjati.com/?feed=rss2" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.puskowanjati.com</link>
	<description>Bersama kita bisa, dengan tanggung renteng kita jaya</description>
	<lastBuildDate>Fri, 07 May 2010 07:01:55 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.4</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>BAM Bentuk Perusahaan Kelompok</title>
		<link>http://www.puskowanjati.com/?p=653</link>
		<comments>http://www.puskowanjati.com/?p=653#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 07 May 2010 07:01:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Profil]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.puskowanjati.com/?p=653</guid>
		<description><![CDATA[Kesejahteraan anggota, itulah tujuan dari berkoperasi. Seperti yang dilakukan primer anggota Puskowanjati. Satu diantaranya adalah Kopwan Bhakti Asta Makmur (BAM) yang telah membentuk tim Bina Usaha (BINUS) BAM. Apa saja yang telah dilakukan Kopwan yang berada di Malang ini. Berikut liputan Bulletin Puskowanjati.
Kredit macet memang merupakan momok bagi sebuah lembaga keuangan tak terkecuali KSP. Semakin [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Kesejahteraan anggota, itulah tujuan dari berkoperasi. Seperti yang dilakukan primer anggota Puskowanjati. Satu diantaranya adalah Kopwan Bhakti Asta Makmur (BAM) yang telah membentuk tim Bina Usaha (BINUS) BAM. Apa saja yang telah dilakukan Kopwan yang berada di Malang ini. Berikut liputan Bulletin Puskowanjati.<span id="more-653"></span></em></p>
<p>Kredit macet memang merupakan momok bagi sebuah lembaga keuangan tak terkecuali KSP. Semakin besar kredit macetnya maka semakin dekat koperasi tersebut dalam jurang kehancuran. Namun tidak demikian dengan koperasi yang menerapkan sistem tanggung renteng. Bila sistem ini diterapkan dengan benar maka permasalahan tersebut akan tuntas ditingkat kelompok.</p>
<p>Tuntas ditingkat kelompok, memang bukan berarti masalah kredit macet tersebut juga tuntas. Karena permasalahan tersebut tetap ada dan menjadi tanggung jawab seluruh anggota dalam kelompok. Itulah sebabnya, ditingkat koperasipun tidak bisa menutup mata terhadap permasalahan yang dihadapi anggotanya. Dalam hal ini juga banyak upaya yang telah dilakukan mulai dari pemberdayaan anggota hingga penjadwalan hutang.</p>
<p>Kopwan BAM misalnya yang lebih memilih upaya pemberdayaan ekonomi anggota dibanding penjadwalan hutang. “Bagi kami resceduling itu dilakukan sebagai langkah terakhir. Kami lebih mengupayakan mengangkat kembali anggota yang jatuh ekonominya dengan memberi bantuan usaha sesuai dengan potensi yang dimiliki.  Sehingga anggota tersebut tetap bisa dipertahankan dalam kelompok dan dengan usaha baru tersebut, ia bisa bangkit dari keterpurukan ekonominya,” ungkap Ibu Evita, Ketua Kopwan BAM.</p>
<p>NPL 0 %  memang merupakan titik idial bagi sebuah lembaga keuangan. Upaya menuju itupun dilakukan dengan penerapan sistem yang ketat.  Tapi harusnya hal itu juga ditunjang dengan upaya menjaga stabilitas ekonomi anggotanya. Dalam hal ini Kopwan BAM berupaya membantu mencari solusi bagi anggota yang terganggu ekonominya.</p>
<p>“Dimanapun saya berada selalu mencoba membaca peluang usaha yang nantinya bisa dikerjakan oleh anggota. Dulu ketika berada di Bali, saya mencoba mencari celah bagi pasar jamur. Hal ini terkait dengan kelompok anggota yang budidaya jamur dan mengalami kejenuhan pasar. Saat itu akses pasar di Bali untuk jamur kita, terbuka. Maka anggotapun lebih diberdayakan lagi agar bisa melakukan pembibitan sendiri dan bisa mengubah jamur menjadi aneka makanan. Sayang kini usaha jamur ini tidak bisa berlanjut sebagai dampak bom Bali waktu itu. Pasar jamurpun tidak bangkit kembali,” ujar Ibu Evita.</p>
<p>Disaat banyak perusahaan melakukan PHK dan diantaranya anggota BAM yang jadi korban, Koperasi inipun mencoba mencari solusi untuk anggotanya. Meski sifatnya untuk sementara ini baru sekedar meringankan beban. Anggota yang mengalami masalah ekonomi didata dan diikutkan dalam pelatihan ketrampilan aneka kerajinan. Tapi sebelumnya juga sudah dilakukan penjajakan pasar untuk melihat kerajinan apa yang diminati. Sehingga ketika anggota sudah punya ketrampilan, pasarpun sudah tersedia dan tinggal pengembangannya saja. Untuk pasar produk kerajinan ini diantaranya adalah kerjasama dengan Jatim Park.</p>
<p>Dalam perjalanan, pola – pola tersebut semakin ditegaskan dengan membentuk tim Bina Usaha (BINUS) BAM.  Tim inilah yang selalu mencari terobosan baru untuk menangkap peluang usaha yang ada dan diperuntukan bagi anggota.  Berbagai produk mulai dari kerajinan hingga produk pabrikan dicoba untuk dilakukan. Setidaknya saat ini, BAM telah memproduksi dan memasarkan berbagai kerajinan dan produk kelompok anggota.</p>
<p>Tim BINUS ini terdiri dari dari 2  bagian yakni bagian budidaya dan bagian  industri dan perdagangan. Sedang kelompok usaha yang telah terbentuk adalah kelompok Semanggi yang bergerak dibidang agrobis, kelompok Lavender yang memproduksi handycraft, kelompok Melati melakukan pengemasan produk industri dan kelompok Anggerk yang memasarkan produk-produk tersebut dikalangan anggota.</p>
<p>Pembentukan kelompok usaha ini diawali dari data yang dilaporkan oleh PPL. Dalam laporan itu, terlihat nama-nama anggota yang sedang terganggu ekonominya. Kepada mereka inilah kemudian ditawarkan sebuah usaha untuk menambah penghasilan. Tentu saja sebelumnya mereka juga digali potensinya. Dalam hal ini dikelompokan pada 2 potensi yaitu potensi produksi dan potensi pemasaran.</p>
<p>Untuk saat ini yang sedang gencar dilakukan BAM adalah melakukan pengemasan produk industri. Hal ini merupakan hasil kerjasama dengan sebuah perusahaan di Bogor yang menghasilkan berbagai produk kebutuhan sehari-hari. Sebagian besar produk perusahaan tersebut telah dikemas dan dipasarkan oleh Unilever. Apa yang telah dilakukan Unilever inilah yang saat ini juga dilakukan oleh BAM dan dikerjakan oleh kelompok anggotanya. Salah satu produknya adalah pelembut dan pewangi pakaian yang diberi lebel So Wangi.</p>
<p>Kelompok anggota yang khusus mengerjakan pengemasan ini dinamakan kelompok melati. Pada awalnya kelompok yang terdiri dari 5 anggota ini diberi pinjaman modal sebesar Rp 5 juta yang diangsur selama 2 tahun. Jasa yang dikenakanpun lebih rendah yaitu hanya 1 %. Hal ini bisa dilakukan karena, jasa telah disubsidi dari hasil penjualan yang dilakukan oleh BAM. Untuk itulah kepada kelompok ini diwajibkan menjual produknya kepada BAM minimal sebesar 40 %. Sedang sisanya bisa mereka pasarkan secara bebas. Walaupun pada kenyataanya justru sekitar 60 % yang mereka pasarkan pada BAM.</p>
<p>“Meski belum besar hasilnya, tapi setidaknya mereka secara kelompok boleh dikatakan sudah bisa memiliki perusahaan sendiri. Sekarang tinggal bagaimana mereka bisa mengembangkannya. Untuk pemasarannya, jelas BAM tidak akan lepas tangan dan akan selalu mensuportnya. Seperti kelompok-kelompok usaha lainnya yang sudah terbentuk. Itulah sebabnya BAM juga membentuk kelompok perdagangan yang disebut kelompok Anggrek,” papar Ibu Evita.</p>
<p>Dipaparkannya juga, kelompok ini, sekarang sudah mampu menyisihkan penghasilannya untuk disimpan sebagai simpanan manasuka di BAM. Setidaknya dalam satu bulan mereka saat ini sudah bisa menyimpan sebesar Rp 500 ribu. Keberadaan kelompok ini juga memberi kontribusi pada kelompok tanggung renteng dimana anggota tersebut berasal. Kontribusi berasal dari hasil selisih penjualan yang dilakukan BAM untuk dimasukan dalam kas TR masing –masing kelompok.</p>
<p>“Beberapa waktu lalu ada salah satu anggota kelompok yang meninggal akibat kanker. Padahal saat itu ia baru pinjam sebesar Rp 7 juta. Sedang  kas kelompok tersebut sebesar Rp 14 juta yang diantaranya merupakan kontribusi dari hasil penjualan. Dengan demikian TR yang terjadi bisa ditutup dengan kas TR tersebut. Inilah indahnya tanggung renteng yang telah menghidupkan kembali semangat gotong royong yang hampir hilang,” tukas Ketua BAM yang enerjik dan kreatif ini.</p>
<p>Kelompok usaha yang bisa dikatakan sebagai cikal bakal sebuah perusahaan ini diharapkan nantinya bisa terus bekembang. Sehingga semakin banyak anggota yang bisa memetik manfaatnya. Walaupun saat ini dalam berproduksi, masih dilakukan secara <em>sambilan.</em> Produksi, mereka lakukan setelah pekerjaan rumah tangga selesai sampai sebelum anak-anak mereka yang sekolah pulang. Tentunya diharapkan kedepan bukan lagi sebagai <em>sambilan</em>, tapi menjadi sebuah perusahaan yang justru menjadi penopang utama ekonomi keluarga.  <em>(gt)</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.puskowanjati.com/?feed=rss2&amp;p=653</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Membangun Kedekatan dengan Outbond</title>
		<link>http://www.puskowanjati.com/?p=651</link>
		<comments>http://www.puskowanjati.com/?p=651#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 07 May 2010 06:58:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pelatihan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.puskowanjati.com/?p=651</guid>
		<description><![CDATA[Dengan kebersamaan, beratnya beban akan terasa ringan dan berbagai permasalahan akan lebih mudah diselesaikan. Tapi permasalahannya bagaimana membangun kebersamaan sebagai satu keluarga besar sebuah koperasi.
Kedekatan fisik maupun emosional antar anggota keluarga adalah sebuah kewajaran. Karena interaksi diantara anggota keluarga bisa terjadi setiap saat. Begitu pula dalam satu kelompok tanggung renteng.Kedekatan itu bisa dibangun karena setiap [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Dengan kebersamaan, beratnya beban akan terasa ringan dan berbagai permasalahan akan lebih mudah diselesaikan. Tapi permasalahannya bagaimana membangun kebersamaan sebagai satu keluarga besar sebuah koperasi.<span id="more-651"></span></em></p>
<p>Kedekatan fisik maupun emosional antar anggota keluarga adalah sebuah kewajaran. Karena interaksi diantara anggota keluarga bisa terjadi setiap saat. Begitu pula dalam satu kelompok tanggung renteng.Kedekatan itu bisa dibangun karena setiap bulan mereka bertemu dalam forum pertemuan kelompok. Lalu bagaimana membangun kedekatan antar anggota dalam sebuah koperasi ? Nampaknya beberapa primer manganggap, outbond bisa sebagai salah satu sarana yang tepat.</p>
<p>Pada Desember lalu misalnya KSU SBW Malang mengajak sekitar 200 anggotanya untuk melakukan outbond di Kaliandra-Prigen yang difasilitasi Puskowanjati. Dengan jumlah peserta yang cukup banyak itu, mereka dibagi menjadi 6 tim. Mereka berlomba mulai pos pemberangkatan hingga pos terakhir untuk menjadi tim terbaik.</p>
<p>Dibawa pohon beringin yang rindang didepan pendopo, itulah  tempat awal dan akhir perjalanan outbond. Pada saat pembentukan tim, dilakukan dengan cara setiap peserta mencari pipet dimana didalamnya tertera nama kelompok. Disinilah masing-masing anggota yang bisa jadi belum saling kenal dan lebih menonjokan rasa keakuannya dipaksa untuk bisa menyatu. Satu kepentingan yang dimunculkan saat itu adalah membentuk tim sesuai dengan kategori yang telah ditentukan.</p>
<p>Proses pembentukan tim ini nampaknya cukup menghabiskan waktu sekitar 20 menit. Saat itu banyak peserta yang kurang memperhatikan insturksi. Akibatnya mereka juga nampak sibuk mencari pipet dan kemudian kebingungan tentang apa yang harus dilakukan selanjutnya. Begitu pula setelah tim-tim sudah mulai terbentuk, nampak beberapa peserta yang tidak mempedulikan pipet yang dipegang dan langsung begitu saja bergabung pada satu tim. Akibatnya ada tim yang kebanyakan anggota, tapi ada juga yang kekurangan anggota. Akhirnya untuk mempersingkat waktu, jumlah anggota itupun dibagi rata.</p>
<p>Dalam proses selanjutnya, keakuan dan saling tidak kenal tersebut akhirnya melebur menjadi satu rasa kebersamaan sebagai satu tim. Mereka secara bersama-sama memperjuangkan agar timnya menjadi yang terbaik. Suka,- duka, berat – ringan beban yang dihadapi ditanggung bersama. Hal tersebut terbangun sejak mereka membuat lambang, yel-yel hingga berbagai game. Di pos pemberangkatan inilah, antar tim sudah berkompetisi memperebutkan tiket keberangkatan.</p>
<p>Satu per satu tim yang telah berhasil memenangkan game akhirnya diberangkatkan. Berbagai rintanganpun siap menghadang mereka mulai dari pos I hingga pos IV. Perjalanan menuju pos I merupakan yang terberat, karena jalannya terus mendaki menyusuri perbukitan. Namun diperjalanan ini pula peserta bisa menikmati panorama alam yang indah.</p>
<p>Setapak demi setapak, mereka berjalan beriringan menuju setiap pos. sesekali terdengar suara guyonon diantara mereka. Dengan nafas yang ngos-ngosan, akhirnya mereka sampai di Pos I. Disini, mereka dihadang dengan permainan yang didalamnya juga terkandung pemahaman nilai-nilai tanggung renteng. Pemahaman tersebut diperkuat dan diuji pada pos-pos berikutnya. Baru kemudian di pos IV mereka diajak berimajinasi tentang sebuah bangunan yang dicita-citakan. Tidak hanya sampai disitu, mereka juga diminta menuangkan dalam sebuah perencanaan dan mewujudkannya menjadi sebuah kenyataan.</p>
<p>Sayangnya ketika belum semua tim sampai di pos terakhir, hujan mulai turun. Saat itu tim tiga baru sampai di Pos III. Disinilah tim ini diuji nyalinya, untuk meneruskan ke Pos IV atau mencari jalan pintas. Tapi nampaknya tim tiga ini lebih memilih menuju jalan pintas untuk sampai di finis. Sementara tim dibelakangnya, nampaknya lebih gigih dan pantang menyerah, semua pos dilaluinya.</p>
<p>Hujan, meski tidak lebat tapi terus terun. Akibatnya untuk melakukan proses pada tahap terakhir tidak bisa dilakukan. Namun penyatuan rasa sebagai keluarga besar berhasil dibangun dengan digelarnya penanda tanganan semua peserta pada kain sepanjang 9 meter. Saat penanda tanganan itu, Ibu Untari, Ketua SBW Malang melakukan orasi  untuk membangkitkan semangat kekeluargaan dan nasionalisme anggotanya. Tak pelak suasana harupun mulai merasuk. Bahkan beberapa diantaranya ada yang berlinang air mata. Moment tersebut juga untuk menandai kelahiran KSU SBW malang yang kini mencapai usia ke 35.</p>
<p>Berbeda dengan KSU SBW – Malang, Kopwan Dian Wanita – tretes juga mengadakan outbond tapi di Selecta. Outbond yang diselenggarakan pada Nopember lalu itu diikuti 50 peserta. “Organisasi kita terus berkembang aktivitasnya. Sehingga diperlukan kader-kader untuk pengembangan lebih lanjut. Salah satu upaya itu dengan outbond. Harapannya ada peningkatan kualitas SDM kita dalam pengelolaan kelompok. Sehingga Dian Wanita bisa semakin kokoh,” tandas Ibu Kartono, Ketua Kopwan Dian Wanita dalam sambutan pembukanya.</p>
<p>Restoran Selecta yang menghadap ke kolam renang saat itu berubah menjadi basecamp outbond. Seperti biasanya di basecamp inilah semua peserta melakukan  proses pembentukan kelompok hingga memainkan berbagai game. Setelah itu satu persatu tim yang memenangkan game diberangkatkan. Merekapun berjalan beriringan menyusuri kebun apel dan persawahan yang ada disekitar Selecta untuk menuju pos-pos yang harus dilalui. Disetiap pos itu pula, tiap tim diajak melakukan game.</p>
<p>Proses yang terjadi selama perjalanan dan setiap game yang dimainkan diminta untuk dicatat kemudian dipresentasikan setelah mereka kembali ke basecamp. Dari hasil pencatatan proses itulah, tanpa sadar mereka menemukan nilai-nilai tanggung renteng. Hal inilah yang kemudian dipertegas lagi dengan paparan dari Tim Puskowanjati. Sehingga bisa disimpulkan bahwa nilai-nilai tanggung renteng bukan hanya sekedar slogan dalam penerapan sistem tanggung renteng. Tapi nilai-nilai itu memang nyata adanya dan menyatu dalam dinamika kehidupan. <em>(gt)</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.puskowanjati.com/?feed=rss2&amp;p=651</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kontribusi Srikandi Puskowanjati Untuk Jatim</title>
		<link>http://www.puskowanjati.com/?p=647</link>
		<comments>http://www.puskowanjati.com/?p=647#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 07 May 2010 06:55:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.puskowanjati.com/?p=647</guid>
		<description><![CDATA[Mendatangi 4 Kopwan setiap bulan untuk melakukan pendampingan, memang nampak bukan pekerjaan berat. Tapi kalau Kopwan tersebut berada jauh di pelosok desa, tentu hal ini tidak bisa dikatakan ringan. Hal inilah yang dilakukan para Srikandi Puskowanjati. 
Pengembangan ekonomi kerakyatan merupakan salah satu solusi yang kini terus dikembangkan pemerintah dalam upaya pengentasan kemiskinan. Oleh Gubernur Jawa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Mendatangi 4 Kopwan setiap bulan untuk melakukan pendampingan, memang nampak bukan pekerjaan berat. Tapi kalau Kopwan tersebut berada jauh di pelosok desa, tentu hal ini tidak bisa dikatakan ringan. Hal inilah yang dilakukan para Srikandi Puskowanjati. <span id="more-647"></span></em></p>
<p>Pengembangan ekonomi kerakyatan merupakan salah satu solusi yang kini terus dikembangkan pemerintah dalam upaya pengentasan kemiskinan. Oleh Gubernur Jawa Timur, hal tersebut diterjemahkan diantaranya dengan program satu desa satu koperasi wanita (Kopwan).  Program ini juga merupakan salah satu emplementasi dari  slogan “APBD untuk rakyat” yang dipopulerkan saat kampanye Pilgub Jatim oleh pasangan Pak Karwo dan Gus Ipul.</p>
<p>Kalau program ini lebih di focuskan untuk desa, hal itu memang cukup beralasan. Mengingat jumlah penduduk miskin memang lebih banyak berada di pedesaan. Dari data BPS 2008 disebutkan dari jumlah penduduk miskin di Jawa Timur sebesar 6,65 juta jiwa,  65,26% diantaranya berada di pedesaan. Sehingga asumsinya, mengembangkan perekonomian pedesaan akan bisa menjangkau sebagian besar masyarakat miskin.</p>
<p>Untuk pengembangan perekonomian tersebut, Gubernur Jawa Timur nampaknya mengakui lembaga koperasi sebagai sarana yang tepat. Hal ini ditopang pula oleh data yang menyebutkan tentang kiprah koperasi wanita yang dipandang sukses. Walaupun secara kuantitas, koperasi wanita masih dibilang kecil, tapi sangat menonjol dalam kualitas.</p>
<p>“LKM yang dibentuk harus memakai koperasi wanita. Satu kelurahan satu koperasi. Kalo perempuan berdaya imbasnya pada peningkatan kesejahteraan keluarga. Dari keluarga yang sejahtera akan melahirkan generasi penerus yang berkualitas dan ujung-ujungnya negara. Fakta juga menunjukan, usaha yang dikelola wanita ternyata lebih unggul. Meski sampai saat ini prosentase jumlah Kopwan di Jatim masih kesil yakni hanya 1,2 % dibanding jumlah koperasi pada umumnya, Diharapkan keberadaan Kopwan ini nantinya bisa menjadi penggerak perekonomian didesa,” tukas Bp Braman Setyo saat sosialisasi di Puskowanjati September lalu.</p>
<p>Itulah sebabnya Puskowanjati sebagai sekundernya koperasi wanita di Jawa Timur yang telah dikenal dengan sistem tanggung rentengnya menjadi pilihan untuk melakukan pendampingan. Karena memang kiprah dari Puskowanjati maupun beberapa primernya juga sudah cukup dikenal bukan saja ditingkat regional tapi nasional. “Kalau semua primer anggota Puskowanjati yang jumlahnya 46 Kopwan bisa diturunkan itu akan lebih baik. Karena sebarannya diseluruh Jawa Timur,” ujar Pak Braman Setyo, Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Jatim.</p>
<p>Puskowanjati memang sekundernya koperasi wanita di Jawa Timur yang menerapkan sistem tanggung renteng. Tapi keberadaan primer anggota Puskowanjati masih belum merata disetiap wilayah. Beberapa wilayah seperti Banyuwangi, Bondowoso, Situbondo, Lumajang, Tulungagung, Trenggalek, Pacitan, Ponorogo, Magetan, Bojonegoro dan Tuban masih belum ada primer anggota Puskowanjati. Begitu pula untuk wilayah Madura, Primer Puskowanjati baru ada di Bangkalan dan Sumenerp.</p>
<p>Kualitas primer-primer anggota Puskowanjati juga tidak merata. Ada yang anggotanya sudah ribuan tapi ada juga yang masih ratusan. Kualitas SDMnya juga demikian. Sehingga masih ada beberapa primer yang belum memungkinkan untuk bisa dilibatkan dalam program pendampingan. Kondisi ketidak merataan inilah yang kemudian juga menyulitkan dalam pembagian wilayah pendampingan. Sehingga tidak mengherankan bila ada beberapa primer yang wilayah dampingannya sampai lintas kabupaten. Setidaknya dalam hal ini terdapat 8 primer yang harus melakukan pendampingan lintas wilayah.</p>
<p>Untuk SBW Surabaya menurunkann 168 kadernya untuk terjun ke berbagai daerah. Kopwan yang berada di Surabaya ini harus menjangkau wilayah Surabaya, Gersik, Sidoarjo, Bojonegoro, Tuban, Lamongan, Pamekasan, Sampang dan Magetan. Demikian juga dengan Waspada Surabaya yang menurunkan 128 kadernya. Mereka diturunkan di wilayah Surabaya, Gersik, Jombang, Bojonegoro, Tuban, Pamekasan, Bangkalan dan Sampang.</p>
<p>Sedang SBW Malang menurunkan 72 kadernya. Mereka diterjunkan diwilayah Malang Kota, Kabupaten Malang, Kab Blitar, Kota Blitar, Tulungagung, Nganjuk, Trenggalek, Magetan dan Kab Madiun. Untuk Citra Lestari Lawang juga menurunkan 74 kadernya. Mereka diterjunkan di Kab Malang, Kab Blitar, Tulungagung, Nganjuk, Trenggalek, Kab Madiun, Ponorogo dan Pacitan.</p>
<p>Tak ketinggalan BAM-Malang juga menurunkan 18 kadernya untuk diterjunkan di Malang kota dan Kab Blitar. Sedang Citra Kartini Sumber Pucung menerjunkan 74 kader untuk wilayah Kab Malang, Tulungagung, Nganjuk, Trenggalek, Kab Madiun, Ponorogo dan Pacitan. Sementara Kartika Chandra –Pasuruan yang menurunkan 71 kader ditempatkan di Pasuruan Kota, Probolinggo, Lumajang, Jember dan Bondowoso.</p>
<p>Diwilayah timur ada Wanita Hemat Probolinggo yang menerjunkan 24 kader di Kabupaten dan kota Probolinggo, Lumajang, dan Jember. Sedang Sekar Kartini Jember menurunkan 61 kader di wilayah Situbondo, Banyuwangi, Bondowoso dan Jember.</p>
<p>Karena wilayah jangkauannya lintas daerah, tentu saja apa yang dilakukan para kader tersebut tidak bisa dikatakan ringan. Dengan kompensasi biaya Rp 600 ribu per kader per bulan mereka harus terjun ke pelosok desa yang jauh dari tempat tinggalnya. Mereka juga harus berhadapan dengan komunitas yang sama sekali belum pernah dikenalnya.</p>
<p>Lelah akibat perjalanan jauh ditambah dengan kelelahan pikir karena harus melakukan pendampingan yang didalamnya tentu banyak persoalan yang harus dipecahkan. Itulah yang dialami para kader pendamping dari berbagai primer anggota Puskowanjati. Tapi niat sudah ditanamkan, semangat sudah dikobarkan maka pantang bagi Srikandi Puskowanjati untuk kembali. Satu tujuan mulia yang diemban yaitu meningkatkan kesejahteraan masyarakat Jawa Timur. Selamat berjuang Srikandi-Srikandi Puskowanjati. Enkau pantas menyandang gelar pahlawan koperasi yang berjuang untuk masyarakat agar terentas dari kemiskinan. Inilah kontribusi kita sebagai keluarga besar Puskowanjati kepada Jawa Timur.<em>(gt)</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.puskowanjati.com/?feed=rss2&amp;p=647</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kopwan Srikandi Buka Telesencer Planet</title>
		<link>http://www.puskowanjati.com/?p=643</link>
		<comments>http://www.puskowanjati.com/?p=643#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Mar 2010 02:58:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.puskowanjati.com/?p=643</guid>
		<description><![CDATA[Hawa sejuk menyelimuti Desa Dayurejo, walau saat itu matahari sudah tinggi. Kondisi demikian memang merupakan hal biasa bagi warga Desa Dayurejo. Sehingga aktivitas warga juga berjalan seperti biasanya. Tapi ada hal yang tidak biasa, di jalan desa itu nampak beberapa rombongan ibu – ibu yang sedang menuju satu tempat.
Ternyata mereka sedang menuju ke rumah mantan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hawa sejuk menyelimuti Desa Dayurejo, walau saat itu matahari sudah tinggi. Kondisi demikian memang merupakan hal biasa bagi warga Desa Dayurejo. Sehingga aktivitas warga juga berjalan seperti biasanya. Tapi ada hal yang tidak biasa, di jalan desa itu nampak beberapa rombongan ibu – ibu yang sedang menuju satu tempat.<span id="more-643"></span></p>
<p>Ternyata mereka sedang menuju ke rumah mantan Lurah Desa Dayurejo, Kecamatan Prigen – Pasuruan. Dirumah besar yang nampak asri itu memang terlihat ada kesibukan yang beda dengan hari biasanya. Kesibukan itu ditandai juga dengan suara sound system yang mengalunkan lagu-lagu <em>lawas.</em> Di aula yang bersebelahan dengan rumah mantan Lurah itulah, para ibu berkumpul.</p>
<p>Memang pada 17 Pebruari itu merupakan hari istimewa bagi keluarga besar Kopwan Srikandi &#8211; Prigen. Ibu-ibu yang menjadi wakil anggota berkumpul memenuhi aula untuk mengikuti Rapat Anggota Tahunan. Setidaknya saat itu dari 100 yang diundang, hadir 92 anggota wakil dari kelompok.</p>
<p>Tidak hanya anggota, acara tahunan tersebut juga dihadiri kepala sekolah dari sekolah yang ada di Desa Dayurejo. Tak ketinggalan para kepala dusun dan tokoh masyarakat juga hadir pada kesempatan tersebut. Disamping itu juga hadir Ibu Yoos Lutfi (Ketua Puskowanjati), Ibu Kartono (Ketua Kopwan Dian Wanita), Ibu Mamik (Ketua Kopwan Kartika Chandra). Sedang dari Dinas Perindagkop Kabupaten Pasuruan mewakilkan pada Kabag Kelembagaan.</p>
<p>“Sejak bergabung dengan Puskowanjati, Kopwan Srikandi menerapkan sistem tanggung renteng. Kini sudah 4 tahun berjalan, penerapannya mengalami perkembangan cukup baik. Sekitar tahun 2001, jumlah anggota Kopwan Srikandi sekitar 300. kini telah mencapai 500 anggota yang tergabung dalam kelompok tanggung renteng. Dari sisi keorganisasian juga mulai tertata,” ungkap Ibu Yoos Lutfi, Ketua Puskowanjati dalam sambutannya.</p>
<p>Pada kesempatan tersebut, Ibu Yoos juga bertanya pada anggota tentang manfaat menjadi anggota Kopwan Srikandi. “Banyak”, jawab anggota secara serempak. Diantaranya ada yang menyebutkan manfaat mendapatkan pelatihan ketrampilan. Tapi ada juga yang menyebutkan, mudahnya mendapatkan hutang. Pernyataan terakhir itulah yang kemudian memunculkan tawa dan sekaligus membenarkannya.</p>
<p>Sementara untuk memotivasi Kopwan Srikandi, Ketua Puskowanjati ini memaparkan tentang Koperasi di Panandaran. Diceritakannya, koperasi yang beranggotakan istri nelayan tersebut berdiri sejak 1 tahun lalu. Tapi kini anggotanya telah mencapai 500 orang. Para anggota tersebut juga mendapat berbagai pelatihan ketrampilan. Diantaranya juga ada yang berhasil mengembangkannya menjadi sebuah usaha. Dari usaha itu mereka bisa ikut menunjang perekonomian keluarga utamanya saat para suami tidak bisa melaut dan tidak ada penghasilan.</p>
<p>RAT Kopwan Srikandi kali ini memang terasa istimewa. Karena bersamaan dengan acara tersebut juga diselenggarakan sosialisasi Telesenter dan sekaligus peresmiannnya. Telesenter yang ada di Kopwan Srikandi ini diberi nama Planet, singkatan dari <em>Pusat Layanan Internet</em>. Telesenter Planet ini lokasinya bersebelahan dengan kantor Kopwan Srikandi. “Mudah-mudahan unit usaha baru ini bisa membawa manfaat bagi masyarakat sekitarnya,” harap Ibu Umi, Ketua Kopwan Srikandi – Prigen dalam kata sambutannya.</p>
<p>Sementara itu Ibu Yoos Lutfi, Ketua Puskowanjati didalam sambutannya juga meminta dukungan semua elemen masyarakat. “Sudah pasti keberadaan telesenter ini akan bisa bermanfaat bagi anggota dan masyarakat Desa Dayurejo. Tapi keberadaan telesenter ini tidak akan bisa berkembang tanpa ada dukungan masyarkat utamanya semua elemen yang ada, baik dari unsur pemerintahan maupun masyarakat,” ujarnya.</p>
<p>Sementara dalam sesi sosialisasi telesenter, Bp Gazali Hasan, Menejer Proyek Telesenter memaparkan tentang berbagai manfaat telesenter. “Internet itu memang bisa berdampak negatif tapi juga banyak manfaatnya untuk kemajuan masyarakat. Jadi bergantung bagaimana kita menggunakannya. Nach keberadaan telesenter ini akan mengoptimalkan manfaat internet untuk meningkatkan kualitas SDM Desa Dayurejo. Tentu saja semua itu, pada akhirnya untuk meningkatkan kesejahteraan,” ujarnya saat membuka pemaparan sambil memberikan contoh tentang dampak negatif dari internet serta berbagai manfaatnya.</p>
<p>Acara seremonial yang berisi sambutan dari berbagai pihak dan sosialisasi telesenter itupun diakhiri dengan acara istirahat. Disaat itulah, para undangan diajak menuju ke lokasi telesenter untuk mengikuti peresmian. Begitu pita digunting, merekapun masuk untuk melihat dan mencoba menggunakan fasilitas yang ada di telesenter. Diantaranya ada yang langsung melakukan browsing dan ada juga yang membuka facebook. <em>(gt)</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.puskowanjati.com/?feed=rss2&amp;p=643</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kontribusi Srikandi Puskowanjati Untuk Jatim</title>
		<link>http://www.puskowanjati.com/?p=624</link>
		<comments>http://www.puskowanjati.com/?p=624#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 15 Feb 2010 03:00:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.puskowanjati.com/?p=624</guid>
		<description><![CDATA[Mendatangi 4 Kopwan setiap bulan untuk melakukan pendampingan, memang nampak bukan pekerjaan berat. Tapi kalau Kopwan tersebut berada jauh di pelosok desa, tentu hal ini tidak bisa dikatakan ringan. Hal inilah yang dilakukan para Srikandi Puskowanjati. 
 
Pengembangan ekonomi kerakyatan merupakan salah satu solusi yang kini terus dikembangkan pemerintah dalam upaya pengentasan kemiskinan. Oleh Gubernur [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center"><em>Mendatangi 4 Kopwan setiap bulan untuk melakukan pendampingan, memang nampak bukan pekerjaan berat. Tapi kalau Kopwan tersebut berada jauh di pelosok desa, tentu hal ini tidak bisa dikatakan ringan. Hal inilah yang dilakukan para Srikandi Puskowanjati. <span id="more-624"></span></em></p>
<p align="center"><em> </em></p>
<p>Pengembangan ekonomi kerakyatan merupakan salah satu solusi yang kini terus dikembangkan pemerintah dalam upaya pengentasan kemiskinan. Oleh Gubernur Jawa Timur, hal tersebut diterjemahkan diantaranya dengan program satu desa satu koperasi wanita (Kopwan).  Program ini juga merupakan salah satu emplementasi dari  slogan “APBD untuk rakyat” yang dipopulerkan saat kampanye Pilgub Jatim oleh pasangan Pak Karwo dan Gus Ipul.</p>
<p>Kalau program ini lebih di focuskan untuk desa, hal itu memang cukup beralasan. Mengingat jumlah penduduk miskin memang lebih banyak berada di pedesaan. Dari data BPS 2008 disebutkan dari jumlah penduduk miskin di Jawa Timur sebesar 6,65 juta jiwa,  65,26% diantaranya berada di pedesaan. Sehingga asumsinya, mengembangkan perekonomian pedesaan akan bisa menjangkau sebagian besar masyarakat miskin.</p>
<p>Untuk pengembangan perekonomian tersebut, Gubernur Jawa Timur nampaknya mengakui lembaga koperasi sebagai sarana yang tepat. Hal ini ditopang pula oleh data yang menyebutkan tentang kiprah koperasi wanita yang dipandang sukses. Walaupun secara kuantitas, koperasi wanita masih dibilang kecil, tapi sangat menonjol dalam kualitas.</p>
<p>“LKM yang dibentuk harus memakai koperasi wanita. Satu kelurahan satu koperasi. Kalo perempuan berdaya imbasnya pada peningkatan kesejahteraan keluarga. Dari keluarga yang sejahtera akan melahirkan generasi penerus yang berkualitas dan ujung-ujungnya negara. Fakta juga menunjukan, usaha yang dikelola wanita ternyata lebih unggul. Meski sampai saat ini prosentase jumlah Kopwan di Jatim masih kesil yakni hanya 1,2 % dibanding jumlah koperasi pada umumnya, Diharapkan keberadaan Kopwan ini nantinya bisa menjadi penggerak perekonomian didesa,” tukas Bp Braman Setyo saat sosialisasi di Puskowanjati September lalu.</p>
<p>Itulah sebabnya Puskowanjati sebagai sekundernya koperasi wanita di Jawa Timur yang telah dikenal dengan sistem tanggung rentengnya menjadi pilihan untuk melakukan pendampingan. Karena memang kiprah dari Puskowanjati maupun beberapa primernya juga sudah cukup dikenal bukan saja ditingkat regional tapi nasional. “Kalau semua primer anggota Puskowanjati yang jumlahnya 46 Kopwan bisa diturunkan itu akan lebih baik. Karena sebarannya diseluruh Jawa Timur,” ujar Pak Braman Setyo, Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Jatim.</p>
<p>Puskowanjati memang sekundernya koperasi wanita di Jawa Timur yang menerapkan sistem tanggung renteng. Tapi keberadaan primer anggota Puskowanjati masih belum merata disetiap wilayah. Beberapa wilayah seperti Banyuwangi, Bondowoso, Situbondo, Lumajang, Tulungagung, Trenggalek, Pacitan, Ponorogo, Magetan, Bojonegoro dan Tuban masih belum ada primer anggota Puskowanjati. Begitu pula untuk wilayah Madura, Primer Puskowanjati baru ada di Bangkalan dan Sumenerp.</p>
<p>Kualitas primer-primer anggota Puskowanjati juga tidak merata. Ada yang anggotanya sudah ribuan tapi ada juga yang masih ratusan. Kualitas SDMnya juga demikian. Sehingga masih ada beberapa primer yang belum memungkinkan untuk bisa dilibatkan dalam program pendampingan. Kondisi ketidak merataan inilah yang kemudian juga menyulitkan dalam pembagian wilayah pendampingan. Sehingga tidak mengherankan bila ada beberapa primer yang wilayah dampingannya sampai lintas kabupaten. Setidaknya dalam hal ini terdapat 8 primer yang harus melakukan pendampingan lintas wilayah.</p>
<p>Untuk SBW Surabaya menurunkann 168 kadernya untuk terjun ke berbagai daerah. Kopwan yang berada di Surabaya ini harus menjangkau wilayah Surabaya, Gersik, Sidoarjo, Bojonegoro, Tuban, Lamongan, Pamekasan, Sampang dan Magetan. Demikian juga dengan Waspada Surabaya yang menurunkan 128 kadernya. Mereka diturunkan di wilayah Surabaya, Gersik, Jombang, Bojonegoro, Tuban, Pamekasan, Bangkalan dan Sampang.</p>
<p>Sedang SBW Malang menurunkan 72 kadernya. Mereka diterjunkan diwilayah Malang Kota, Kabupaten Malang, Kab Blitar, Kota Blitar, Tulungagung, Nganjuk, Trenggalek, Magetan dan Kab Madiun. Untuk Citra Lestari Lawang juga menurunkan 74 kadernya. Mereka diterjunkan di Kab Malang, Kab Blitar, Tulungagung, Nganjuk, Trenggalek, Kab Madiun, Ponorogo dan Pacitan.</p>
<p>Tak ketinggalan BAM-Malang juga menurunkan 18 kadernya untuk diterjunkan di Malang kota dan Kab Blitar. Sedang Citra Kartini Sumber Pucung menerjunkan 74 kader untuk wilayah Kab Malang, Tulungagung, Nganjuk, Trenggalek, Kab Madiun, Ponorogo dan Pacitan. Sementara Kartika Chandra –Pasuruan yang menurunkan 71 kader ditempatkan di Pasuruan Kota, Probolinggo, Lumajang, Jember dan Bondowoso.</p>
<p>Diwilayah timur ada Wanita Hemat Probolinggo yang menerjunkan 24 kader di Kabupaten dan kota Probolinggo, Lumajang, dan Jember. Sedang Sekar Kartini Jember menurunkan 61 kader di wilayah Situbondo, Banyuwangi, Bondowoso dan Jember.</p>
<p>Karena wilayah jangkauannya lintas daerah, tentu saja apa yang dilakukan para kader tersebut tidak bisa dikatakan ringan. Dengan kompensasi biaya Rp 600 ribu per kader per bulan mereka harus terjun ke pelosok desa yang jauh dari tempat tinggalnya. Mereka juga harus berhadapan dengan komunitas yang sama sekali belum pernah dikenalnya.</p>
<p>Lelah akibat perjalanan jauh ditambah dengan kelelahan pikir karena harus melakukan pendampingan yang didalamnya tentu banyak persoalan yang harus dipecahkan. Itulah yang dialami para kader pendamping dari berbagai primer anggota Puskowanjati. Tapi niat sudah ditanamkan, semangat sudah dikobarkan maka pantang bagi Srikandi Puskowanjati untuk kembali. Satu tujuan mulia yang diemban yaitu meningkatkan kesejahteraan masyarakat Jawa Timur. Selamat berjuang Srikandi-Srikandi Puskowanjati. Enkau pantas menyandang gelar pahlawan koperasi yang berjuang untuk masyarakat agar terentas dari kemiskinan. Inilah kontribusi kita sebagai keluarga besar Puskowanjati kepada Jawa Timur.<em>(gt)</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.puskowanjati.com/?feed=rss2&amp;p=624</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Membangun Kedekatan dengan Outbond</title>
		<link>http://www.puskowanjati.com/?p=622</link>
		<comments>http://www.puskowanjati.com/?p=622#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 15 Feb 2010 02:59:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pelatihan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.puskowanjati.com/?p=622</guid>
		<description><![CDATA[Dengan kebersamaan, beratnya beban akan terasa ringan dan berbagai permasalahan akan lebih mudah diselesaikan. Tapi permasalahannya bagaimana membangun kebersamaan sebagai satu keluarga besar sebuah koperasi.Kedekatan fisik maupun emosional antar anggota keluarga adalah sebuah kewajaran. Karena interaksi diantara anggota keluarga bisa terjadi setiap saat. Begitu pula dalam satu kelompok tanggung renteng.Kedekatan itu bisa dibangun karena setiap [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Dengan kebersamaan, beratnya beban akan terasa ringan dan berbagai permasalahan akan lebih mudah diselesaikan. Tapi permasalahannya bagaimana membangun kebersamaan sebagai satu keluarga besar sebuah koperasi.<span id="more-622"></span></em>Kedekatan fisik maupun emosional antar anggota keluarga adalah sebuah kewajaran. Karena interaksi diantara anggota keluarga bisa terjadi setiap saat. Begitu pula dalam satu kelompok tanggung renteng.Kedekatan itu bisa dibangun karena setiap bulan mereka bertemu dalam forum pertemuan kelompok. Lalu bagaimana membangun kedekatan antar anggota dalam sebuah koperasi ? Nampaknya beberapa primer manganggap, outbond bisa sebagai salah satu sarana yang tepat.</p>
<p>Pada Desember lalu misalnya KSU SBW Malang mengajak sekitar 200 anggotanya untuk melakukan outbond di Kaliandra-Prigen yang difasilitasi Puskowanjati. Dengan jumlah peserta yang cukup banyak itu, mereka dibagi menjadi 6 tim. Mereka berlomba mulai pos pemberangkatan hingga pos terakhir untuk menjadi tim terbaik.</p>
<p>Dibawa pohon beringin yang rindang didepan pendopo, itulah  tempat awal dan akhir perjalanan outbond. Pada saat pembentukan tim, dilakukan dengan cara setiap peserta mencari pipet dimana didalamnya tertera nama kelompok. Disinilah masing-masing anggota yang bisa jadi belum saling kenal dan lebih menonjokan rasa keakuannya dipaksa untuk bisa menyatu. Satu kepentingan yang dimunculkan saat itu adalah membentuk tim sesuai dengan kategori yang telah ditentukan.</p>
<p>Proses pembentukan tim ini nampaknya cukup menghabiskan waktu sekitar 20 menit. Saat itu banyak peserta yang kurang memperhatikan insturksi. Akibatnya mereka juga nampak sibuk mencari pipet dan kemudian kebingungan tentang apa yang harus dilakukan selanjutnya. Begitu pula setelah tim-tim sudah mulai terbentuk, nampak beberapa peserta yang tidak mempedulikan pipet yang dipegang dan langsung begitu saja bergabung pada satu tim. Akibatnya ada tim yang kebanyakan anggota, tapi ada juga yang kekurangan anggota. Akhirnya untuk mempersingkat waktu, jumlah anggota itupun dibagi rata.</p>
<p>Dalam proses selanjutnya, keakuan dan saling tidak kenal tersebut akhirnya melebur menjadi satu rasa kebersamaan sebagai satu tim. Mereka secara bersama-sama memperjuangkan agar timnya menjadi yang terbaik. Suka,- duka, berat – ringan beban yang dihadapi ditanggung bersama. Hal tersebut terbangun sejak mereka membuat lambang, yel-yel hingga berbagai game. Di pos pemberangkatan inilah, antar tim sudah berkompetisi memperebutkan tiket keberangkatan.</p>
<p>Satu per satu tim yang telah berhasil memenangkan game akhirnya diberangkatkan. Berbagai rintanganpun siap menghadang mereka mulai dari pos I hingga pos IV. Perjalanan menuju pos I merupakan yang terberat, karena jalannya terus mendaki menyusuri perbukitan. Namun diperjalanan ini pula peserta bisa menikmati panorama alam yang indah.</p>
<p>Setapak demi setapak, mereka berjalan beriringan menuju setiap pos. sesekali terdengar suara guyonon diantara mereka. Dengan nafas yang ngos-ngosan, akhirnya mereka sampai di Pos I. Disini, mereka dihadang dengan permainan yang didalamnya juga terkandung pemahaman nilai-nilai tanggung renteng. Pemahaman tersebut diperkuat dan diuji pada pos-pos berikutnya. Baru kemudian di pos IV mereka diajak berimajinasi tentang sebuah bangunan yang dicita-citakan. Tidak hanya sampai disitu, mereka juga diminta menuangkan dalam sebuah perencanaan dan mewujudkannya menjadi sebuah kenyataan.</p>
<p>Sayangnya ketika belum semua tim sampai di pos terakhir, hujan mulai turun. Saat itu tim tiga baru sampai di Pos III. Disinilah tim ini diuji nyalinya, untuk meneruskan ke Pos IV atau mencari jalan pintas. Tapi nampaknya tim tiga ini lebih memilih menuju jalan pintas untuk sampai di finis. Sementara tim dibelakangnya, nampaknya lebih gigih dan pantang menyerah, semua pos dilaluinya.</p>
<p>Hujan, meski tidak lebat tapi terus terun. Akibatnya untuk melakukan proses pada tahap terakhir tidak bisa dilakukan. Namun penyatuan rasa sebagai keluarga besar berhasil dibangun dengan digelarnya penanda tanganan semua peserta pada kain sepanjang 9 meter. Saat penanda tanganan itu, Ibu Untari, Ketua SBW Malang melakukan orasi  untuk membangkitkan semangat kekeluargaan dan nasionalisme anggotanya. Tak pelak suasana harupun mulai merasuk. Bahkan beberapa diantaranya ada yang berlinang air mata. Moment tersebut juga untuk menandai kelahiran KSU SBW malang yang kini mencapai usia ke 35.</p>
<p>Berbeda dengan KSU SBW – Malang, Kopwan Dian Wanita – tretes juga mengadakan outbond tapi di Selecta. Outbond yang diselenggarakan pada Nopember lalu itu diikuti 50 peserta. “Organisasi kita terus berkembang aktivitasnya. Sehingga diperlukan kader-kader untuk pengembangan lebih lanjut. Salah satu upaya itu dengan outbond. Harapannya ada peningkatan kualitas SDM kita dalam pengelolaan kelompok. Sehingga Dian Wanita bisa semakin kokoh,” tandas Ibu Kartono, Ketua Kopwan Dian Wanita dalam sambutan pembukanya.</p>
<p>Restoran Selecta yang menghadap ke kolam renang saat itu berubah menjadi basecamp outbond. Seperti biasanya di basecamp inilah semua peserta melakukan  proses pembentukan kelompok hingga memainkan berbagai game. Setelah itu satu persatu tim yang memenangkan game diberangkatkan. Merekapun berjalan beriringan menyusuri kebun apel dan persawahan yang ada disekitar Selecta untuk menuju pos-pos yang harus dilalui. Disetiap pos itu pula, tiap tim diajak melakukan game.</p>
<p>Proses yang terjadi selama perjalanan dan setiap game yang dimainkan diminta untuk dicatat kemudian dipresentasikan setelah mereka kembali ke basecamp. Dari hasil pencatatan proses itulah, tanpa sadar mereka menemukan nilai-nilai tanggung renteng. Hal inilah yang kemudian dipertegas lagi dengan paparan dari Tim Puskowanjati. Sehingga bisa disimpulkan bahwa nilai-nilai tanggung renteng bukan hanya sekedar slogan dalam penerapan sistem tanggung renteng. Tapi nilai-nilai itu memang nyata adanya dan menyatu dalam dinamika kehidupan. <em>(gt)</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.puskowanjati.com/?feed=rss2&amp;p=622</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Puskowanjati Gelar Pelatihan Telesenter Gelombang II</title>
		<link>http://www.puskowanjati.com/?p=614</link>
		<comments>http://www.puskowanjati.com/?p=614#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 04 Feb 2010 06:38:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pelatihan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.puskowanjati.com/?p=614</guid>
		<description><![CDATA[Pelatihan untuk pengelola telesenter digelar kembali oleh Puskowanjati  pada 2 – 4 Pebruari lalu. Sasaran pelatihan ini adalah  primer penerima program telesenter tahap kedua. Mereka adalah pengelola telesenter dari Kopwan Mawar Putih – Malang, Srikandi- Prigen , Kencono Wungu – Mojokerto dan Kartini Mandiri – Batu. Tapi dalam pelatihan ini juga ada yang dari primer [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em><img class="alignright size-full wp-image-618" title="pelatihan bph di pusko" src="http://www.puskowanjati.com/wp-content/uploads/2010/02/pelatihan-bph-di-pusko.JPG" alt="pelatihan bph di pusko" width="216" height="162" />Pelatihan untuk pengelola telesenter digelar kembali oleh Puskowanjati  pada 2 – 4 Pebruari lalu. Sasaran pelatihan ini adalah  primer penerima program telesenter tahap kedua. Mereka adalah pengelola telesenter dari Kopwan Mawar Putih – Malang, Srikandi- Prigen , Kencono Wungu – Mojokerto dan Kartini Mandiri – Batu. Tapi dalam pelatihan ini juga ada yang dari primer penerima Telesenter tahap pertama. Mereka dari Kopwan Wanita Mandiri- Cepu dan Citra Lestari – Lawang.<span id="more-614"></span></em></p>
<p>Seperti pelatihan pada penerima telesenter gelombang pertama, mereka diajak untuk lebih jauh mengenal tentang dunia maya. Dalam hal ini mereka dikenalkan tentang manfaat akses internet. Tentu saja tidak hanya teori atau pengajaran dalam kelas, mereka juga diajak untuk mempraktekannya di Telesenter Puskowanjati. Tidak itu saja mereka juga dilatih dalam pembuatan web site walaupun secara sederhana.</p>
<p>Dalam pelatihan selama 3 hari ini mereka juga diberi pelatihan tentang pengelolaan sebuah warnet yang dipandu oleh Tim dari Waroenk Internet. Tim yang terdiri dari 3 personil dan telah berpengalaman dalam mengelola Warnet ini  tidak hanya memaparkan tentang berbagai renik pengelolaan warnet tapi juga sampai pada tahap pembuatan bisnis plan. Termasuk bagaimana melakukan chaneling untuk pengembangan selanjutnya.</p>
<p>Chaneling ini tentu saja dibutuhkan, mengingat dalam program telesenter ini, bukan saja  sebagai sebuah bisnis warnet. Tapi dalam program telesenter ini juga ada misi pemberdayaan yang diembannya. Karena bagaimanapun, World Bank sebagai founding dari program ini sangat berharap agar telesenter bisa berkembang sebagai lembaga pemberdayaan masyarakat pedesaan melalui teknologi informasi. Itulah sebabnya dalam program ini, telesenter juga diwajibkan mengadakan pelatihan secara periodik sesuai dengan kebutuhan masyarkat disekitarnya.</p>
<p>Terkait dengan fungsi sosial dari telesenter tersebut, para pengelola telesenter juga dilatih tentang social interpreneurship. Dengan bekal tersebut diharapkan nantinya para pengelola bisa mengembangkan telesenternya secara mandiri tanpa harus meninggalkan fungsi sosialnya. Disamping itu para pengelola juga bisa mensinergikan semua potensi yang ada didaerahnya untuk pemberdayaan masyarakatnya. Termasuk dalam hal ini turut mengembangkan dan memasarkan produk unggulan yang ada didaerahnya. Untuk itulah telesenter-telesenter Puskowanjati yang sudah berdiri ini akan saling tekoneksi. (gt)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.puskowanjati.com/?feed=rss2&amp;p=614</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Semangat Belajar</title>
		<link>http://www.puskowanjati.com/?p=609</link>
		<comments>http://www.puskowanjati.com/?p=609#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 04 Feb 2010 06:15:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pelatihan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.puskowanjati.com/?p=609</guid>
		<description><![CDATA[Hujan turun deras membasahi kota Cepu, pada hal pelatihan dasar komputer gratis akan dimulai pada pukul 14.00 Wib. Badan pengurus harian (BPH) Cepu Telecenter harap-harap cemas akan kedatangan mereka. Jarum jam pun sudah menunjukkan pukul 14.00 Wib, tapi mereka juga belum datang ke tempat pelatihan, “mereka datang gak ya?” ujar salah satu BPH Cepu Telecenter.
Pukul [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em><img class="alignright size-full wp-image-610" title="cepu semangat" src="http://www.puskowanjati.com/wp-content/uploads/2010/02/cepu-semangat.jpg" alt="cepu semangat" width="216" height="162" />Hujan turun deras membasahi kota Cepu, pada hal pelatihan dasar komputer gratis akan dimulai pada pukul 14.00 Wib. Badan pengurus harian (BPH) Cepu Telecenter harap-harap cemas akan kedatangan mereka. Jarum jam pun sudah menunjukkan pukul 14.00 Wib, tapi mereka juga belum datang ke tempat pelatihan, “mereka datang gak ya?” ujar salah satu BPH Cepu Telecenter.<span id="more-609"></span></em></p>
<p>Pukul 14.25 Wib hujan bertambah deras. Dari kejauhan tampak anak-anak mengayuh sepeda menuju Cepu Telecenter. Semakin lama semakin mendekat, dan tak disangka mereka ternyata peserta pelatihan dasar komputer gratis. Tak lama kemudian, mereka langsung memarkirkan sepeda mereka di halaman kantor, dan membuka baju mereka yang basah kuyub serambi berkata “maaf mbak, kami telat”.</p>
<p>Sambil mengeringkan badannya dan menyeka raut muka, mereka antri masuk ke dalam ruangan pelatihan, dan duduk didepan computer, satu computer terdiri dari dua orang peserta. Peserta kali ini berjumlah 12 orang, yang terdiri dari: Wahyu, Haris, Fauzan, Aldi, Adis, Antok, Rayhan, Nugi, Rizal, Dimas, Mella dan Putri. Mereka semua merupakan siswa SD Negeri 8 Cepu.</p>
<p>Pukul 14.30 Wib, pelatihan dimulai oleh BPH Cepu Telecenter Veronica Puji Astuti. Dia mengawali pelatihan dengan memperkenalkan perangkat computer dan kegunaannya, hal ini bertujuan untuk menambah pengetahuan para peserta pelatihan agar mereka tahu hubungan antara perangkat yang satu dengan yang lainya. Kemudian dilanjutkan pelatihan Microsoft office word, disini para peserta pelatihan diajarkan cara mengetik, membuat kolom, penandaan dan penomoran, autoshapes, word art, clip art dan membuat kolom Koran. Para peserta tampak antusias sekali mengikuti pelatihan ini, walaupun tanpa baju, karena baju mereka terpaksa di copot dan di jemur.</p>
<p>Pelatihan computer hampir selesai, sebab waktu sudah menunjukkan pukul 16.30 Wib, bahkan diantara peserta telah dijemput oleh orang  tuanya. Tapi mereka berjanji akan datang lagi untuk megikuti pelatihan computer.</p>
<p>Bangga, itulah perasaan yang di rasakan oleh BPH Cepu Telecenter. Sebab mereka tidak menyangka akan kedatangan peserta pelatihan yang begitu bersemangat, walaupun dalam keadaan hujan deras yang sekali-kali dikejutkan dengan petir yang cukup keras. Berjuang, berjuang lah penerus generasi bangsa. Tuntutlah ilmu setinggi bintang di langit. <em>(sumber : <a href="http://ceputelecenter.wordpress.com/2010/01/23/semangat-belajar/" target="_blank">http://ceputelecenter.wordpress.com/2010/01/23/semangat-belajar/</a>)</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.puskowanjati.com/?feed=rss2&amp;p=609</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Gebyar Kopwan Jadi Pilot Percontohan Nasional</title>
		<link>http://www.puskowanjati.com/?p=605</link>
		<comments>http://www.puskowanjati.com/?p=605#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 04 Feb 2010 03:34:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.puskowanjati.com/?p=605</guid>
		<description><![CDATA[Lagi-lagi Jawa Timur bikin gebrakan. Kini program penumbuhan Kopwan disetiap desa akan diadopsi jadi program nasional. Tentu saja bila program ini memang dianggap berhasil.
Pendopo Kabupaten Blitar bergemuruh oleh suara tawa dan tepuk tangan saat Wagub Jatim, Syaifullah Yusuf  berada di podium. Apa yang dilontarkan dan gaya berkomunikasinya membauat suasana menjadi cair dan penuh keakraban. Itulah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Lagi-lagi Jawa Timur bikin gebrakan. Kini program penumbuhan Kopwan disetiap desa akan diadopsi jadi program nasional. Tentu saja bila program ini memang dianggap berhasil.<span id="more-605"></span></em></p>
<p align="left">Pendopo Kabupaten Blitar bergemuruh oleh suara tawa dan tepuk tangan saat Wagub Jatim, Syaifullah Yusuf  berada di podium. Apa yang dilontarkan dan gaya berkomunikasinya membauat suasana menjadi cair dan penuh keakraban. Itulah suasana yang berhasil dibangun sosok yang akrab dipanggil Gus Ipul pada acara Temu Kopwan Baru bersama Wakil Gubernur Jatim pada 24 Januari lalu.</p>
<p align="left">Acara yang digelar di Pendopo Kabupaten Blitar ini menghadirkan sekitar 500 undangan. Sebagian besar dari mereka adalah para pengurus Kopwan yang baru dibentuk di Kabupaten Blitar seiring dengan program penumbuhan Kopwan disetiap desa. Selain itu kursi undangan juga nampak dipenuhi oleh pendamping dari Puskowanjati.</p>
<p align="left">Acara temu dengan Wakil Gubernur ini sedianya dijadwalkan pukul 14.00. Sementara undangan dijadwalkan datang pada pukul 12.00 dan ternyata sejak pukul 11.00 mereka sudah berdatangan. Padahal Wakil Gubernur,baru datang sekitar pukul 15.00. Kondisi inilah yang membuat suasana agak resah karena tidak tersedia makan siang. Tapi kondisi itulah yang justru menjadi bahan guyonon oleh Wagub sehingga suasana menjadi cair penuh keakraban.</p>
<p>“Kalau dulu saya dan Pak Karwo mencari suara untuk bisa menjadi gubernur dan wakil gubernur. Sekarang saya dan Pak Gubernur kembali keliling mencari tim sukses untuk mensukseskan pembangaunan yang ada di Jatim. Maka saya ingin mengajak yang hadir untuk menjadi tim sukses. Untuk itu supaya iklas dan tidak mengeluh sepulang dari sini, sebagai konsekuensi menjadi tim sukses,maka saya harus bisa mengganti kelaparan bapak-ibu sekalian. Jangan sampai ada persepsi buruk karena Pak Wagup menelantarkan undangan….,” canda Gus Ipul yang disambut tawa dan tepuk tangan dari yang hadir.</p>
<p>Pada kesempatan tersebut, Wagub Jatim juga memaparkan tentang latar belakang program satu desa satu Kopwan yang digagas Pak Karwo. Dikatakannya, gagasan itu muncul setelah melihat bahwa kesuksesan seorang suami karena disampingnya ada istri yang hebat. Istri juga mempunyai peranan yang sangat menentukan dalam keluarga. Sehingga muncul pemikiran bagaimana memberdayakan perempuan. Memang selama ini sudah banyak kegiatan kewanitaan. Tapi dukungan terhadap keberadaan koperasi wanita masih belum memadai. Padahal keberadaan Kopwan bisa menjadi salah satu sarana pemberdayaan wanita. Diantaranya dengan memberikan dukungan permodalan untuk menumbuhkan usaha. Sehingga bisa menunjang peningkatan penghasilan keluarga.</p>
<p>“Kalau program ini sukses, maka pada 2011 permodalan akan kita tambah kepada semuanya secara merata. Makanya mari kita suksesan program ini secara bersama-sama. Kalau ini sukses, nanti akan dijadikan program nasional. Sehingga akan ada alokasi dana dari APBN lewat Kementrian Koperasi dan UMKM. Ini program pertama kali dan satu-satunya di Indonesia. Maka perlu dukungan kita semua agar nantinya yang menikmati bisa lebih banyak lagi. Di Jawa Timur sendiri, kita nanti minta dukungan DPRD agar anggarannya bisa lebih besar lagi,” tukasnya.</p>
<p>Pada kesempatan tersebut Bp Syaifullah Yusuf, Wagub Jatim juga menyampaikan hasil survey BPS pada September 2009. Dikatakannya, saat ini masih ada sekitar 3 juta rumah tangga miskin.  Dari jumlah tersebut 493 ribu diantaranya tergolong rumah tangga sangat – sangat miskin. Mereka ini kebanyakan berada di wilayah tapal kuda. Kemudian sekitar 1,2 juta rumah tangga miskin tapi masih bisa diberdayakan. Sedang untuk rumah tangga yang hampir miskin tercatat sekitar 1,3 juta. Untuk mengatasi permasalahan ini salah satu yang diperlukan adalah peran koperasi, UKM-UMKM dan khususnya koperasi wanita. Harapannya, dengan penumbuhan Kopwan disetiap desa ini bisa mengangkat kesejahteraan mereka agar menjadi lebih baik.</p>
<p>Sebelum kedatangan Wagub Jatim, diadakanlah acara dialog. Sedang sebagai nara sumbernya adalah Bp Braman Setyo (Kepala Dinas Koperasi &amp; UMKM Jatim), Ibu Yoos Lutfi (Ketua Puskowanjati),  Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Kab Blitar,  Dekopinda Kab Blitar.  Pada kesempatan tersebut, Bp Braman Setya menyampaikan jumlah Koperasi Wanita memang hanya 3% dari jumlah koperasi yang ada. Tapi secara kualitas, keberadaan Koperasi Wanita lebih menonjol. Hal ini telah dibuktikan oleh Puskowanjati bersama primer-primernya.</p>
<p>Sedang Ibu Yoos Lutfi kembali menegaskan tentang status hibah. Dikatakannya dana hibah sebesar Rp 25 juta per Kopwan itu harus dikelola dan dikembangkan. Istilah hibah, itu melekat pada lembaganya sedangkan dari koperasi pada anggotanya sifatnya pinjaman yang harus dikembalikan. Sehingga modal awal Rp 25 juta itu bisa terus diputar dan bisa bermanfaat pada masyarakat yang lebih banyak lagi.</p>
<p>Dalam tahun 2009, Kabupaten Blitar telah membentuk 109 Kopwan yang berada disetiap desa.  Sedang untuk mendampingi Kopwan tersebut, Puskowanjati menurunkan 28 pendamping yang berasal dari Kopwan Citra Lestari, BAM dan Kopwan SBW-Malang. Mereka inilah yang memenuhi ruangan pendopo Kabupaten Blitar saat digelarnya acara temu Wagub</p>
<p>Di Kecamatan Kanigoro misalnya, saat ini telah terbentuk 9 Kopwan dari 12 desa yang ada. Salah satunya Kopwan Cahaya Pertiwi yang berada di Desa Gogodeso. Seperti yang disampaikan oleh Ketuanya bahwa Kopwan ini berasal dari kelompok pemberdayaan perempuan yang sudah ada sebelumnya. Sedang keanggotaanya, kini mencapai 50 perempuan yang tersebar di setiap pedukuhan. “Kami ingin berkembang. Untuk itu kami ingin menjadi anggota Puskowanjati agar selalu mendapat pendampingan,” ujar Ketua Kopwan Cahaya Pertiwi yang juga istri Kepala Desa Gogodeso saat acara dialog yang digelar sebelum kedatangan Bp Syaifullah Yusuf, Wagub Jatim.</p>
<p>Pada kesempatan lain, Bp Bambang, Kepala Dinas Kop dan UMKM Kabupaten Blitar  mencoba memotivasi para pengurus Kopwan dengan akan diadakannya lomba.</p>
<p>“Silahkan masing-masing desa berpacu dalam prestasi. Nanti setiap tahun akan dilombakan,”ujarnya saat mengadakan tatap muka dengan pengurus Kopwan yang ada di Kecamatan Kanigoro.</p>
<p>Pada kesempatan yang sama Bp Sutik, Ketua Dekopinda Kabupaten Blitar juga memotivasi para pengurus Kopwan tersebut. Disampaikannya, agar semua pengurus Kopwan tak segan-segan menyampaikan ide kreatif tentang berkoperasi. Kalau selama ini koperasi hanya identik dengan tempat meminjam. Maka di Kopwan ini jadikan yang beda. Dari hasil penelitian, koperasi yang sesuai dengan jatidirinya adalah seperti yang dilakukan Puskowanjati. Mari kita tunjukan kinerja kita seperti yang dilakukan Puskowanjati,” tandasnya.</p>
<p>Diharapkan juga, apa yang telah dilakukan Kopwan Cahaya Pertiwi bisa menjadi contoh bagi Kopwan lainnya. Di Desa Gogodesa ini telah banyak berdiri industri rumahan mulai dari makanan olahan hingga kerajinan. Untuk itu kehadiran Kopwan bisa memberikan solusi bagi mereka dalam masalah permodalan. Bahkan didesa ini diharapkan nantinya akan bisa terbentuk klauster-klauster. Sehingga dengan partisipasi seluruh warganya, ekonomi desa inipun bisa bergerak. Pada akhirnya akan terjadi peningkatan kesejahteraan. <em>(gt)</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.puskowanjati.com/?feed=rss2&amp;p=605</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Rp 6 M Dari APBD Untuk Dekopinwil</title>
		<link>http://www.puskowanjati.com/?p=595</link>
		<comments>http://www.puskowanjati.com/?p=595#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 04 Feb 2010 03:16:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.puskowanjati.com/?p=595</guid>
		<description><![CDATA[Inilah pertama kali Dekopinwil mendapat alokasi dana sebesar Rp 6 milyar dari APBD. Demikian yang diungkap Bp Mardjito, Ketua Dekopinwil Jatim dalam sambutan pembukaan Rakor Dekopinwil di Hotel Utama 7 Januari. “Seumur-umur baru tahun ini kita mendapat alokasi dana dari APBD Prop Jatim sebesar Rp 6 milyar. Semoga ini bisa terus berlansung dan selamanya,” ujarnya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em><img class="alignright size-full wp-image-597" title="jatimkop 1" src="http://www.puskowanjati.com/wp-content/uploads/2010/02/jatimkop-11.JPG" alt="jatimkop 1" width="216" height="162" />Inilah pertama kali Dekopinwil mendapat alokasi dana sebesar Rp 6 milyar dari APBD. Demikian yang diungkap Bp Mardjito, Ketua Dekopinwil Jatim dalam sambutan pembukaan Rakor Dekopinwil di Hotel Utama 7 Januari. “Seumur-umur baru tahun ini kita mendapat alokasi dana dari APBD Prop Jatim sebesar Rp 6 milyar. Semoga ini bisa terus berlansung dan selamanya,” ujarnya yang disambut tepuk tangan dari yang hadir.</em><span id="more-595"></span></p>
<p>Pada kesempatan tersebut, Bp Mardjito juga berharap hal sama terjadi di Dekopinda, Bagaimana diupayakan agar setiap Dekopinda juga mendapat alokasi dana dari APBD daerahnya masing-masing. Alokasi dana tersebut sebagai bukti kepercayaan yang diberikan kepada Dekopinwil maupun Dekopinda. Untuk itu jangan ciderai kepercayaan tersebut  dengan kepentingan-kepentingan lain yang pada akhirnya justru akan merugikan gerakan koperasi kedepan..</p>
<p>Dalam sambutannya, Ketua Dekopinwil Jatim juga menyampaikan tentang hasil Rapat Anggota Luar Biasa (RALB)  Dekopin. Dimana dalam acara yang digelar pada Desember lalu itu, terpilih Bp Nurdin Halid sebagai Ketua Umum dan Bp Adi Sasono sebagai Ketua Dewan Penasehat. Sehingga permasalahan dua kepemimpinan yang terjadi di Dekopin sebelumnya bisa diselesaikan.  Saat itu Ketua Umum terpilih juga menyampaikan bahwa pengukuhan perangkat Dekopin akan dilaksanakan di Jawa Timur. Maksud tersebut nampaknya juga telah disetujui oleh Gus Ipul, Wakil Gubernur Jatim.</p>
<p>Kepada Wakil Gubernur Jawa Timur, Dekopinwil juga telah menyampaikan tentang rencana penyelenggaraan Harkopnas di Jawa Timur.  Dalam hal ini Gus Ipul telah menyetujui ada 5 tempat sebagai alternatif lokasi penyelenggaraan. Tempat tersebut adalah Sidoarjo, Jombang, Pasuruan, Gesik dan Bangkalan. Kelima tempat ini akan dikaji lebih mendalam tentang kelebihan dan kekurangannya. Karena bagaimanapun dalam acara tersebut, seperti biasa akan dihadiri oleh Presiden beserta kabinetnya. Disamping itu tamu atau utusan dari berbagai propinsi juga akan berdatangan.” Kami yakin dengan kekompakan kita, rencana ini akan bisa berjalan,” ujar Bp Mardjito.</p>
<p>Pada kesempatan tersebut, Ketua Dekopinwil ini juga menyoroti tentang maraknya koperasi simpan pinjam didaerah-daerah yang dalam operasionalnya telah mengabaikan jatidiri koperasi. “Mari kita ajak mereka agar berkoperasi sesuai dengan jatidiri koperasi. Untuk menangani masalah ini juga telah kami sampaikan pada Gubernur. Dalam hal ini Dekopinwil mengusulkan agar dibentuk satu tim yang terdiri dari Dinas dan Dekopinwil untuk meluruskan koperasi yang demikian,” tandasnya.</p>
<p>Tapi lanjutnya untuk mengatasi hal tersebut terkendala pada landasan aturan yang belum jelas. Sebetulnya  Gubernur Jatim sudah menghimbau pada dinas seluruh kabupaten  maupun kota untuk membentuk tim yang terdiri dari Dinas dan Dekopinda. Namun masalahnya lagi, belum semua daerah membentuk Dinas Koperasi. “Semestinya pra koperasi untuk menjadi koperasi kewenangannya pada Dekopinwil  dan Dekopinda. Setelah siap baru diserahkan ke pemerintah untuk peresmian pembentukannya. Karena yang ada di Dekopinwil dan Dekopinda itu terdiri dari para pengurus koperasi,” usulnya.</p>
<p>Apa yang disampaikan Bp. Mardjito tersebut juga mendapat tanggapan dari Dinas Koperasi dan UMKM yang diwakili Bp Sularso. Pada sambutannya, Bp Sularso meminta pada Dekopin agar menyikapinya secara arif. “KSP yang operasionalnya seperti bank titil. Dalam RUU perkoperasian,  LKM seperti itu jelas tak diijinkan. Ini perlu dicermati dan disikapi. Pada saat rapat anggota kalau memang bunganya terlalu tinggi maka kalau perlu harus diturunkan saat itu,” ujarnya.</p>
<p>Lebih lanjut juga disampaikan, kedepan kerjasama antara Dekopin dan pemerintah sebagai mitra harus terus ditingkatkan. Sedang terkait alokasi APBD untuk Dekopin dikatakan kuncinya ada di legeslatif. “APBD itu uang rakyat yang perencaan pemanfaatannya harus mengadop usulaan dari bawah. Jadi Dekopinwil maupun Dekopinda silahkan mengusulkannya,” himbau Bp Sularso.</p>
<p>Disinggung pula dalam kesempatan tersebut tentang  Komite Pengawasan Koperasi yang diusulkan Dekopinwil. Dikatannya kalau hal ini bisa berjalan tentu good gouvernence bisa diwujudkan. KPK juga tidak perlu turun tangan.</p>
<p>Bersamaan dengan Rakor ini Dekopinwil juga menggelar 5 acara lain. Praktis ada 5 ruang besar di hotel yang berlokasi di Juanda itu yang digunakan..  Untuk Rapat Koordinasi antara Dekopinwil dan Dekopinda diselenggarakan di Sentosa Hall. Sedang untuk kegiatan biro informasi dan hukum diadakan di New Hall. Sementara untuk kegiatan Jaringan Usaha Koperasi dan temu usaha diadakan di Garuda Hall. Untuk Rakor Lapenkopwil dan  Lapenkopda menggunakan Gita Loka Hall. Sementara untuk BKWK dan BKPK menggunakan Madina Hall. <em>(gt)</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.puskowanjati.com/?feed=rss2&amp;p=595</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
