Refleksi 3 Tahun Kerjasama Puskowanjati – IOM

Jalinan kerjasama antara Puskowanjati dan International Organization of Migration (IOM) tanpa terasa telah berjalan 3 tahun. Pada Mei lalu, jalinan kerjasama ini telah berakhir seiring dengan berakhirnya Divisi Livelihood-IOM. Bagaiman jalinan tersebut berjalan, berikut refleksinya.

Gelombang tsunami yang meluluh lantakan Aceh telah mengundang simpati dunia. Bantuan dari berbagai belahan bumi inipun mengalir seiring dengan kedatangan NGO di bumi rencong ini. Salah satu NGO tersebut adalah International Organization of Migration (IOM). Pasca tsunami, lembagai ini juga terjun berupaya membangun kembali kondisi masyarakat yang telah porak poranda. Diantaranya dengan melakukan pemberdayaan ekonomi masyarakat. Sebagai pelaksana dari program ini adalah Divisi Livelihood.

Dalam perjalanan, nampaknya IOM melihat bahwa koperasi bisa menjadi salah satu alat pemberdayaan ekonomi masyarakat. Maka masyarakat dibawah dampingannya diupayakan untuk membentuk koperasi. Terkait dengan itu, IOM menggandeng Puskowanjati yang telah dianggap sukses mengembangkan koperasi dengan sistem tanggung renteng. Akhirnya perjanjian kerjasama dengan Puskowanjati dilakukan dan tanpa terasa kerjasama itu, kini telah berjalan 3 tahun.

Selama kerjasama tersebut, telah tercatat 4 kali study banding yang telah dilakukan. Sedang pelatihan, baik untuk pendamping IOM maupun pengelola koperasi telah dilaksanakan sebanyak 12 kali. Pelatihan ini tidak hanya dilaksanakan di Aceh tapi juga di Malang. Selama pelatihan di Malang inilah, mereka bisa melihat langsung bagaimana pengelolaan koperasi dengan sistem tanggung renteng.

Study banding dan pelatihan memang dirasa belum cukup tanpa ada kegiatan monitoring dan evaluasi. Dalam kegiatan ini Puskowanjati menurunkan Tim Bingsul secara bergantian untuk melihat langsung kondisi primer di Aceh. Dalam sekali berangkat biasanya dikirim 2 personil Bingsul. Tapi pernah juga beberapa kali dikirim secara full team. Bahkan Pengurus Puskowanjati juga pernah beberapa kali ke Aceh.

Adalah Bp Agus dan Bp Bambang, Bingsul Puskowanjati yang pertama kali diturunkan ke Aceh. Mereka berdua mendatangi satu per satu Kopwan yang pembentukannya telah difasilitasi oleh IOM. Tentu saja perjalanan waktu itu tidaklah ringan bahkan boleh dikatakan masih rawan. Karena saat itu kondisi Aceh belum pulih akibat bencana tsunami dan konflik. Perjalanan dari satu Kopwan ke Kopwan lainnya sampai membutuhkan waktu satu hari. Bahkan ada beberapa daerah yang harus dikunjungi dengan menggunakan helicopter.

Kini setelah berjalan selama 3 tahun, hasilpun mulai nampak. Setidaknya saat ini telah terbentuk 19 Kopwan yang tersebar diberbagai wilayah Aceh. Memang tidak bisa dipungkiri, belum semua Kopwan tersebut bisa tumbuh dan berkembang sebagaimana diharapkan. Sistem tanggung rentengpun belum semuanya menerapkan secara tepat. Tentu saja hal ini terjadi karena adanya berbagai kendala diantaranya karena kondisi geografis, sosial maupun budaya. Tentu juga, tidak semua pengelola Kopwan tersebut mampu melewati kendala-kendala tersebut dengan baik.

Diantara kendala yang dirasa cukup pelik tersebut adalah akibat gelontoran dana dari lembaga donor. Dalam hal ini Kopwan – Kopwan tersebut digelontor dana relatif besar untuk ukuran mereka. Parahnya lagi waktu penyalurannya juga dibatasi. Akiibatnya sistem tanggung renteng tidak bisa berfungsi efektif. Kredit macet juga melonjak tajam. Hal ini juga terkait dengan tersebarnya berita bahwa dana yang disalurkan tersebut adalah dana hibah yang tidak wajib untuk dikembalikan. Bahkan karena masalah tersebut, ada salah satu Kopwan yang sampai dibakar kantornya.

Disamping itu, pendampingan terhadap primer maupun kelompok juga bermasalah. Hal ini terjadi karena kurangnya tingkat pemahaman tentang perkoperasian dan sistem tanggung renteng. Ditambah lagi letak antara Kopwan satu dengan lainya cukup berjauhan. Begitu pula antara kelompok satu dengan kelompok lainnya dalam satu primer. Sehingga pendampingan tidak bisa berjalan optimal. Padahal pendampingan terus menerus dan tuntas ditingkat primer maupun ditingkat kelompok sangat dibutuhkan untuk koperasi dengan sistem tanggung renteng.

Dibeberapa tempat, kondisi sosial budaya juga turut menjadi kendala. Diantaranya ada budaya setempat yang melarang perempuan melakukan kegiatan di luar rumah termasuk pertemuan kelompok. Padahal pertemuan kelompok merupakan salah satu syarat yang harus dipenuhi dalam penerapan sistem tanggung renteng. Tapi masalah ini bisa diselesaikan dengan intensnya pengurus melakukan pendekatan dan sosialisasi kepada masyarakat. Disamping itu mereka juga bisa merasakan manfaat dari kegiatan dalam koperasi yang telah dilakukan.

Kendala dalam mengelola koperasi dengan sistem tanggung renteng memang selalu ada dimanapun. Tapi bagaimana menghadapi kendala tersebut dan menyelesaikannya sangat bergantung pada komitmen pengurus koperasi itu sendiri. Terbukti, meski tidak semua Kopwan di Aceh ini bisa menerapkan dengan baik, tapi setidaknya dari 19 Kopwan yang ada, 7 diantaranya bisa mengatasi berbagai kendala tersebut. Selama 3 tahun berjalan ini, 7 Kopwan ini terbukti mampu mengembangkan koperasinya dan menerapkan sistem tanggung renteng.

Berbagai permasalahan dan keberhasilan itulah yang juga diungkap pada acara Workshop refleksi pada Mei lalu yang sekaligus sebagai tanda berakhirnya jalinan kerjasama antara IOM dan Puskowanjati. Acara  tersebut juga sebagai tanda berakhirnya masa tugas Divisi Livelihood. Pada workshop itu pula Puskowanjati mengajak salah satu pengurus dari Kopwan SBW Malang dan Kopwan SBW Surabaya. Mereka ini dihadirkan untuk memaparkan bagaimana kedua Primer Puskowanjati ini menghadapi berbagai kendala dan bisa maju seperti sekarang.

Kendati jalinan kerjasama antara IOM dan Puskowanjati berakhir, tapi kerjasama dengan Kopwan di Aceh tetap berlanjut. Kini jalinan kerjasama itu beralih antara Puskowanjati dan Puskowan Aceh yang kini juga sudah menjadi anggota Inkowan. Dalam hal ini Puskowan Aceh masih disuport dana dari IOM untuk pengembangan organisasinya. Termasuk dalam program pemagangan di Puskowanjati bagi tenaga pendamping Puskowan Aceh yang berlansung selama Juli lalu. Disamping itu juga pelatihan di Puskowan Aceh dengan mendatangkan Bingsul Puskowanjati.

Terlepas dari itu semua, yang jelas keberadaan Puskowan Aceh saat ini juga sudah berada dalam naungan Inkowan.. Artinya Inkowan  yang saat ini diketuai oleh Ibu Yoos Lutfi juga berkewajiban melakukan pendampingan. Tapi semua itu juga kembali lagi pada para pengurus Puskopwan Aceh sendiri beserta primer anggotanya. Karena pola pendampingan apapun tidak akan ada artinya bila tingkat komitmen, kemauan belajar dan semangat mengembangkan koperasinya sangat rendah. (tim bingsul/gt)

Add to Google © Copyright 2010 - 2008 PUSKOWANJATI

This entry was posted on Thursday, 29 October 2009 at 9:51 am and is filed under Berita. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

 

Tulis Komentar

[D] Dewan Koperasi Indonesia Dinas Koperasi dan UMKM Pemkab Malang Dinas KUMKM Prov Jatim [I] Institut Tanggung Renteng [K] Kementrian Koperasi dan UKM Kop. Bhakti Asta Makmur Kopwan Kartika Candra Kopwan Setia Bhakti Wanita [S] Situs Publikasi Telecenter Puskowanjati [W] Wikipedia Koperasi