Satu per satu Telesenter Resmi Dibuka
Setelah dinanti-nantikan, akhirnya perangkat telesenter bantuan World Bank melalui Puskowanjati mulai ditempatkan sejak Juni lalu. Sejak itu operasional telesenter inipun langsung diuji coba oleh 5 primer. Kemudian mamsuki Juli, satu per satu telesenter tersebut mulai diresmikan.
Pada awal Agustus, telesenter Citra Kartini Sumber Pucung, secara resmi telah dibuka. Walaupun untuk uji coba operasionalnya telah dilakukan sejak perangkat telesenter dikirim pada Juni lalu. Pada operasional minggu pertama, telesenter ini membuka kesempatan kepada masyarakat sekitar untuk berinternet secara gratis. Hal ini dilakukan, juga sebagai upaya pengenalan kepada masyarakat.
Ternyata hasil pengenalan tersebut efektif. Terbukti sejak itu, telesenter Citra Kartini yang buka sampai malam ini selalu dibanjiri masyarakat. Mengingat animo masyarakat yang cukup tinggi, maka Kopwan Citra Kartini menambah 2 unit lagi. Dengan penambahan tersebut bisa mengurangi antrian pada jam-jam tertentu.
“Selama uji coba operasional ini, kami telah menambah 2 unit. Karena pada jam-jam tertentu seringkali terjadi antrian. Bila antrian ini dibiarkan, kami khawatir mereka akan lari dan pindah ke warnet yang ada disekitar Ngebruk ini. Selama operasional ini, pendapatan telesenter perhari rata-rata Rp 75 ribu,” ungkap Ibu Tatik, Ketua Kopwan Citra Kartini dalam sambutannya saat peresmian.
Pada peresemian Telesenter Citra Kartini tersebut yang diundang tidak saja anggota, tapi juga tokoh-tokoh masyarakat. Tidak ketinggalan, dalam peresmian ini Kopwan Citra Kartini juga mengundang Pengurus Puskowanjati dan beberapa primer yang ada di Malang Raya. Dari Dinas Kop dan UMKM Malang juga hadir dalam kesempatan tersebut, termasuk juga dari PT Telkom dengan Plexy-nya.
Pada kesempatan tersebut Ibu Yoos, Ketua Puskowanjati memaparkan bagaimana proses bantuan dari World Bank ke Puskowanjati lalu penempatan di primer. “Jadi telesenter ini dari Puskowanjati sifatnya adalah penempatan pada primer. Ketika telesenter ini tidak bisa berkembang sesuai yang diharapkan, maka Puskowajati akan mengalihkan telesenter ini ke primer lain. Untuk itulah kepada anggota dan masyarakat sekitar, diharapkan dukungannya dengan memanfaatkan telesenter ini semaksimal mungkin,” katanya.
Disampaikan lebih lanjut, telesenter ini jangan hanya seperti warnet tapi juga bisa menjadi pusat pembelajaran dan pemberdayaan masyarakat. Karena melalui internet bisa banyak didapat berbagai informasi mulai dari pengembangan produk hingga pemasarannya. Sekarang bergantung bagaimana petugas yang mengelola telesenter ini mengemasnya dengan berbagai kegiatan sehingga bisa menarik dan bermanfaat bagi masyarakat.
Sementara itu dilain tempat di awal Juli, 2 telesenter juga sudah melakukan peresmian. Diujung barat Jawa Timur, misalnya Kopwan Wanita Mandiri meresmikan telesenternya pada 1 Juli dengan nama Telesenter Cepu. Peresmian ini juga dalam rangka peringatan HUT IWAPI Cepu. Tak mengherankan bila dalam acara tersebut banyak dihadiri kalangan pengusaha di Cepu. Sayangnya dalam acara tersebut, Kopwan Mandiri Cepu tidak mengundang Puskowanjati. Padahal bantuan telesenter dari World Bank tersebut disalurkan melalui Puskowanjati.
Sedang di Lawang – Malang, Kopwan Citra Lestari meresmikan telesenternya pada 2 Juli. Di acara tersebut dihadiri Pengurus Puskowanjati, anggota Kopwan Citra Lestari, tokoh masyarakat dan aparat pemerintahan setempat. ”Bapak dan ibu tidak usah malu-malu untuk datang ke telesenter untuk belajar. Putra-putrinya juga bisa diajak sekalian untuk datang ke telesenter yang dikelola Kopwan Citra Lestari ini,” himbau Ibu Sadjim, Ketua II Puskowanjati dalam kata sambutannya.
Dalam kesempatan tersebut Ibu Sadjim juga memaparkan bagaimana kemajuan teknologi informasi telah banyak merubah wajah dunia. Menurutnya kemajuan teknologi informasi, telah membuat dunia ini seakan menjadi kecil. Hanya dengan tekan tombol, kita bisa tahu mana-mana tanpa harus kemana-mana. Kita juga bisa mencari berbagai ilmu hanya dengan berada didepan komputer yang terhubung dalam jaringan internet. Melalui jaringan internet pula kita bisa berbisnis dengan berbagai negara. Kita juga bisa berhubungan dengan siapa saja meski ia berada jauh disana.
”Tapi, tentunya tidak semua orang punya komputer lengkap dengan internetnya. Tidak semua orang juga, bisa menggunakan komputer apalagi berinternet. Hal ini memang masalah, tapi jangan kuatir karena semua itu bisa dipelajari. Lalu dimana belajarnya ??? nach inilah salah satu gunanya telesenter,” papar Ibu Sadjim dihadapan hadirin.
Dijelaskan lebih lanjut, telesenter itu serupa tapi tidak sama dengan warnet. Karena telesenter mempunyai misi pemberdayaan masyarakat. Telesenter dalam perjalanannya juga akan berfungsi sebagai pusat informasi, pusat pembelajaran, pusat pengembangan usaha masyarakat yang ada disekitarnya. “Bapak dan ibu yang punya produk unggulan bisa ke telesenter untuk mencari peluang pasar. Tidak itu saja, bapak dan ibu juga bisa mencari ide-ide baru untuk mengembangkan produknya dengan mengakses berbagai informasi di telesenter ini. Bila perlu – bapak dan ibu bisa juga membentuk kelompok-kelompok belajar yang akan difasilitasi oleh Telesenter,” tambah Ibu Sadjim.
Hal senada juga disampaikan Bp Gazali Hasan, Manager Proyek telesenter kerjasama Puskowanjati dan World Bank. Kepada masyarakat yang hadir di acara tersebut dihimbau untuk ikut mensosialisasikan keberadaan Telesenter Citra Lestari. Disampaikan pula, nantinya petugas telesenter akan terjun langsung ke masyarakat terutama yang sudah terbentuk kelompok untuk memberikan pelatihan.
Seperti telah diberitakan Puksowanjati, telesenter bantuan World Bank melalui Puskowanjati ini akan ditempatkan di 10 primer. Sedang untuk penentuan tempat tersebut didahului dengan survey dengan melihat kesiapan teknis dan potensi sosial, ekonomi daerah. Dari hasil survey tersebut telah ditetapkan 10 primer sebagai penerima. Dari 10 primer tersebut ditentukan sebagai penerima tahap pertama yaitu Kopwan Citra Lestari – Lawang, Citra Kartini- Sumber Pucung, Anggrek- Blitar, Wanita Mandiri- Cepu, Kartini Mandiri – Batu.
Setelah dilakukan survey atau study kelayakan tersebut, 5 primer penerima ini juga mendapat kunjungan tim telesenter untuk mengadakan sosialisasi pada masyarakat sekitar. Kemudian dilanjutkan dengan pelatihan yang difocuskan untuk penyusunan perencanaan usaha. Baru kemudian pada Juni lalu perangkat telesenter dikirim ke masing-masing primer penerima. Selanjutnya memasuki bulan Juli peresmian operasionalnya mulai dilakukan. (gt)










