Presiden : Peran Koperasi Kedepan Penting

Makin kedepan peran koperasi serta peran usaha mikro, usaha kecil dan usaha menengah semakin penting, Demikian yang disampaikan Bp Presiden Susilo Bambang yudhoyono, dalam sambutannya pada puncak peringatan Harkop Nas ke-62 di Stadion Madya Sempaja, Samarinda, Kalimantan Timur.

Saat ini jumlah koperasi di Indonesia mencapai 153 ribu unit dengan anggota 27 juta orang. Dari jumlah tersebut sekitar 10 ribu diantaranya datang ke Samarinda dalam rangka memperingati Hari Koperasi Nasional ke 62. Tak mengherankan bila saat itu Stadion Madya Sempaja menjadi lautan manusia. Seluruh tribun distadion ini penuh oleh anggota gerakan koperasi dari seluruh Indonesia.

Terik matahari siang itu memang cukup menyengat walau sesekali tertutup awan. Tapi kondisi tersebut nampaknya tidak mengurangi semangat yang hadir. Mereka tetap antusias sampai acara selesai. Termasuk 500 pelajar yang menjadi disply konfigurasi koperasi. Mereka tetap semangat memainkan perannya untuk memeriahkan Harkop Nas yang diselenggarakan pada 15 Juli tersebut. Hal ini pula yang diapresiasi oleh Bp Presiden sebelum memulai sambutannya.

Sebelum menyampaikan sambutannya, Presiden RI terlebih dulu menyematkan Satya Lencana Pembangunan Bidang Koperasi kepada Gubernur Kaltim, Gubernur Sumatera Selatan, Gubernur Kalimantan Selatan dan Kepala Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Jawa Timur.

Dalam sambutannya, Presiden menyampaikan peran koperasi dan tantangan kedepan.“Makin kedepan peran koperasi serta peran usaha mikro, usaha kecil dan usaha menengah semakin penting, tolong dicatat itu. Meskipun seolah-olah kita hidup dalam era globalisasi yang ditandai dengan berkembangnya kapitalisme global, tetapi ingat, justru peran koperasi, peran usaha mikro kecil dan menengah sangat penting,” tandasnya.

Disampaikan lebih lanjut, dalam era globalisasi bisa saja perusahaan-perusahaan raksasa dunia mendominasi semua kegiatan bisnis di dunia. Demikian juga pada tingkat nasional. Tetapi absennya usaha kecil, usaha menengah dan koperasi akan menyulitkan upaya kita untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. Walaupun tidak dipungkiri usaha-usaha besar dipentingkan juga untuk membayar pajak dan menciptakan lapangan pekerjaan.

Oleh karena itu solusinya makin kedepan, koperasi serta usaha mikro kecil dan menengah mesti dikembangkan diseluruh tanah air agar lebih banyak lagi. Sehingga kesempatan usaha makin terbuka bagi semua lapisan masyarakat. Dengan demikian akan ada peningkatan pendapatan pula. Sehingga lapangan kerja akan tercipta  dan kemiskinan akan berkurang.

“Arah dan kebijakan pemerintah baik pusat maupun daerah seperti juga tadi yang disampaikan oleh Gubernur  Kalimantan Timur termasuk apa yang dilakukan oleh DEKOPIN yang sangat luar biasa. Pada tahun-tahun terakhir ini menunjukkan bahwa sesungguhnya arah dan kebijakan itu sudah benar. Mari kita jalankan dengan sesungguh-sungguhnya, mari kita tingkatkan dan terus kambangkan agar upaya gerakan Koperasi di seluruh Indonesia bisa berhasil lebih baik lagi”. Tandas Presiden dalam sambutannya.

Sementara itu, Bp Suryadharma Ali, Menegkop dan UMKM RI dalam kesempatan tersebut menyampaikan tentang perkembangan koperasi di Indonesia. “Selama periode 2004-2008, jumlah koperasi di Indonesia telah meningkat sebesar 12,7 %, dari 130.730 unit pada tahun 2004, menjadi 155.301 unit pada tahun 2008. Pada periode yang sama, jumlah modal sendiri mengikat 54,6 % dari Rp. 11,98 triliun menjadi Rp. 21.9 triliun. Sedangkan volume usaha naik 60,5 % dari Rp. 37,65 triliun menjadi Rp. 62,25 triliun,” katanya.

Sedang dalam sambutannya, Menegkop & UMKM RI kembali menegaskan bahwa koperasi sebagai sokoguru perekonomian bangsa. Hal tersebut merupakan  manifestasi dari demokrasi ekonomi sebagaimana digariskan dalam Pasal 33 UUD 1945. Dalam demokrasi ekonomi, produksi dikerjakan oleh semua, untuk semua, di bawah pimpinan atau pemilikan anggota-anggota masyarakat. Meskipun kenyataan tersebut masih jauh dari cita-cita. Namun semangat untuk menjadikan koperasi sebagai tuan rumah di negeri sendiri tak akan pernah padam.

Dikatakan lebih lanjut dalam peringatan Harkop kali ini mengambil tema Memantapkan Peran Gerakan Koperasi Dalam Dinamika Perubahan Global. Hal ini mengandung makna bahwa masyarakat koperasi bertekad dan berkeinginan untuk meningkatkan peran dan kontribusi terhadap ketahanan perekonomian nasional dalam dinamika perubahan global, dengan lebih bersungguh-sungguh meningkatkan kualitas koperasi secara nasional agar menjadi Badan Usaha yang tangguh, kuat dan profesional diberbagai sektor. Sehingga mampu memenuhi kepentingan ekonomi anggota dan masyarakat lingkungannya.

Di samping globalisasi, koperasi Indonesia memiliki sekaligus tiga tantangan. Tantangan pertama, memperbaiki citranya sebagai kumpulan golongan ekonomi lemah pemburu fasilitas. Kedua, kontribusinya, yang meskipun secara sosial cukup tinggi, namun secara nominal masih sangat rendah dalam perekonomian nasional dibandingkan dengan badan usaha swasta. Ketiga, semakin rendahnya kesadaran masyarakat untuk bergotong-royong melalui koperasi seiring dengan meningkatnya modernitas dan individualisme.

Menjawab persoalan-persoalan tersebut, koperasi Indonesia ke depan hendaknya memantapkan perannya dengan kembali pada jati dirinya. Sejak didirikan satu setengah abad yang lalu, koperasi bukanlah semata sebagai badan usaha, namun manifestasi ideologi ekonomi atas dasar nilai-nilai: swadaya, swa tanggung jawab, persamaan, keadilan, dan kesetiakawanan. Seluruh anggota koperasi, semestinyalah percaya pada nilai-nilai etis dari kejujuran, keterbukaan, tanggung jawab sosial, dan kepedulian kepada orang lain. Koperasi yang baik, tidak akan membiarkan anggota-anggotanya tertinggal satu sama lain dalam peningkatan kesejahteraannya.

“Alhamdulillah, sampai dengan akhir tahun 2008, telah terwujud 42.267 unit koperasi berkualitas yang tersebar di 33 provinsi di seluruh Indonesia. Capaian ini tentunya tidak boleh berhenti semata pada labelisasi “koperasi berkualitas”. Atas dasar klasifikasi ini, Kementerian Negara Koperasi berikut dua Badan Layanan Umumnya yang baru, yaitu Lembaga Pengelola Dana Bergulir dan Lembaga Layanan Pemasaran dengan pendekatan lintas pelaku, terus-menerus melakukan program pemberdayaan Usaha Mikro dan Kecil yang berhimpun dalam koperasi,” tandas Bp Suryadharma Ali.

Disampaikan lebih lanjut, pemberdayaan dikelompokkan pada lima aspek. Pertama, aspek kualitas sumber daya manusia, karena di situlah semuanya berawal. Kedua, aspek peningkatan aksesibilitas modal, karena dari modal inilah mereka secara komersial mampu menerjemahkan ide-ide kreatifnya. Ketiga, aspek mekanisasi dan inovasi teknologi, karena dari situ kualitas produksi dapat terjaga secara konsisten. Keempat, pematenan hak cipta dan merk, yang melalui keduanyalah koperasi kita dapat go international. Kelima, aspek kelembagaan, dengan meningkatkan legalitas badan koperasi melalui kerja sama dengan Ikatan Notaris Indonesia, sehingga memungkinkan koperasi untuk membangun linkage program ke lembaga-lembaga keuangan formal. (berbagai sumber/gt)

Add to Google © Copyright 2010 - 2008 PUSKOWANJATI

This entry was posted on Friday, 13 November 2009 at 8:22 am and is filed under Berita. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

 

Tulis Komentar

[D] Dewan Koperasi Indonesia Dinas Koperasi dan UMKM Pemkab Malang Dinas KUMKM Prov Jatim [I] Institut Tanggung Renteng [K] Kementrian Koperasi dan UKM Kop. Bhakti Asta Makmur Kopwan Kartika Candra Kopwan Setia Bhakti Wanita [S] Situs Publikasi Telecenter Puskowanjati [W] Wikipedia Koperasi