Gebyar Kopwan Jadi Pilot Percontohan Nasional
Lagi-lagi Jawa Timur bikin gebrakan. Kini program penumbuhan Kopwan disetiap desa akan diadopsi jadi program nasional. Tentu saja bila program ini memang dianggap berhasil.
Pendopo Kabupaten Blitar bergemuruh oleh suara tawa dan tepuk tangan saat Wagub Jatim, Syaifullah Yusuf berada di podium. Apa yang dilontarkan dan gaya berkomunikasinya membauat suasana menjadi cair dan penuh keakraban. Itulah suasana yang berhasil dibangun sosok yang akrab dipanggil Gus Ipul pada acara Temu Kopwan Baru bersama Wakil Gubernur Jatim pada 24 Januari lalu.
Acara yang digelar di Pendopo Kabupaten Blitar ini menghadirkan sekitar 500 undangan. Sebagian besar dari mereka adalah para pengurus Kopwan yang baru dibentuk di Kabupaten Blitar seiring dengan program penumbuhan Kopwan disetiap desa. Selain itu kursi undangan juga nampak dipenuhi oleh pendamping dari Puskowanjati.
Acara temu dengan Wakil Gubernur ini sedianya dijadwalkan pukul 14.00. Sementara undangan dijadwalkan datang pada pukul 12.00 dan ternyata sejak pukul 11.00 mereka sudah berdatangan. Padahal Wakil Gubernur,baru datang sekitar pukul 15.00. Kondisi inilah yang membuat suasana agak resah karena tidak tersedia makan siang. Tapi kondisi itulah yang justru menjadi bahan guyonon oleh Wagub sehingga suasana menjadi cair penuh keakraban.
“Kalau dulu saya dan Pak Karwo mencari suara untuk bisa menjadi gubernur dan wakil gubernur. Sekarang saya dan Pak Gubernur kembali keliling mencari tim sukses untuk mensukseskan pembangaunan yang ada di Jatim. Maka saya ingin mengajak yang hadir untuk menjadi tim sukses. Untuk itu supaya iklas dan tidak mengeluh sepulang dari sini, sebagai konsekuensi menjadi tim sukses,maka saya harus bisa mengganti kelaparan bapak-ibu sekalian. Jangan sampai ada persepsi buruk karena Pak Wagup menelantarkan undangan….,” canda Gus Ipul yang disambut tawa dan tepuk tangan dari yang hadir.
Pada kesempatan tersebut, Wagub Jatim juga memaparkan tentang latar belakang program satu desa satu Kopwan yang digagas Pak Karwo. Dikatakannya, gagasan itu muncul setelah melihat bahwa kesuksesan seorang suami karena disampingnya ada istri yang hebat. Istri juga mempunyai peranan yang sangat menentukan dalam keluarga. Sehingga muncul pemikiran bagaimana memberdayakan perempuan. Memang selama ini sudah banyak kegiatan kewanitaan. Tapi dukungan terhadap keberadaan koperasi wanita masih belum memadai. Padahal keberadaan Kopwan bisa menjadi salah satu sarana pemberdayaan wanita. Diantaranya dengan memberikan dukungan permodalan untuk menumbuhkan usaha. Sehingga bisa menunjang peningkatan penghasilan keluarga.
“Kalau program ini sukses, maka pada 2011 permodalan akan kita tambah kepada semuanya secara merata. Makanya mari kita suksesan program ini secara bersama-sama. Kalau ini sukses, nanti akan dijadikan program nasional. Sehingga akan ada alokasi dana dari APBN lewat Kementrian Koperasi dan UMKM. Ini program pertama kali dan satu-satunya di Indonesia. Maka perlu dukungan kita semua agar nantinya yang menikmati bisa lebih banyak lagi. Di Jawa Timur sendiri, kita nanti minta dukungan DPRD agar anggarannya bisa lebih besar lagi,” tukasnya.
Pada kesempatan tersebut Bp Syaifullah Yusuf, Wagub Jatim juga menyampaikan hasil survey BPS pada September 2009. Dikatakannya, saat ini masih ada sekitar 3 juta rumah tangga miskin. Dari jumlah tersebut 493 ribu diantaranya tergolong rumah tangga sangat – sangat miskin. Mereka ini kebanyakan berada di wilayah tapal kuda. Kemudian sekitar 1,2 juta rumah tangga miskin tapi masih bisa diberdayakan. Sedang untuk rumah tangga yang hampir miskin tercatat sekitar 1,3 juta. Untuk mengatasi permasalahan ini salah satu yang diperlukan adalah peran koperasi, UKM-UMKM dan khususnya koperasi wanita. Harapannya, dengan penumbuhan Kopwan disetiap desa ini bisa mengangkat kesejahteraan mereka agar menjadi lebih baik.
Sebelum kedatangan Wagub Jatim, diadakanlah acara dialog. Sedang sebagai nara sumbernya adalah Bp Braman Setyo (Kepala Dinas Koperasi & UMKM Jatim), Ibu Yoos Lutfi (Ketua Puskowanjati), Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Kab Blitar, Dekopinda Kab Blitar. Pada kesempatan tersebut, Bp Braman Setya menyampaikan jumlah Koperasi Wanita memang hanya 3% dari jumlah koperasi yang ada. Tapi secara kualitas, keberadaan Koperasi Wanita lebih menonjol. Hal ini telah dibuktikan oleh Puskowanjati bersama primer-primernya.
Sedang Ibu Yoos Lutfi kembali menegaskan tentang status hibah. Dikatakannya dana hibah sebesar Rp 25 juta per Kopwan itu harus dikelola dan dikembangkan. Istilah hibah, itu melekat pada lembaganya sedangkan dari koperasi pada anggotanya sifatnya pinjaman yang harus dikembalikan. Sehingga modal awal Rp 25 juta itu bisa terus diputar dan bisa bermanfaat pada masyarakat yang lebih banyak lagi.
Dalam tahun 2009, Kabupaten Blitar telah membentuk 109 Kopwan yang berada disetiap desa. Sedang untuk mendampingi Kopwan tersebut, Puskowanjati menurunkan 28 pendamping yang berasal dari Kopwan Citra Lestari, BAM dan Kopwan SBW-Malang. Mereka inilah yang memenuhi ruangan pendopo Kabupaten Blitar saat digelarnya acara temu Wagub
Di Kecamatan Kanigoro misalnya, saat ini telah terbentuk 9 Kopwan dari 12 desa yang ada. Salah satunya Kopwan Cahaya Pertiwi yang berada di Desa Gogodeso. Seperti yang disampaikan oleh Ketuanya bahwa Kopwan ini berasal dari kelompok pemberdayaan perempuan yang sudah ada sebelumnya. Sedang keanggotaanya, kini mencapai 50 perempuan yang tersebar di setiap pedukuhan. “Kami ingin berkembang. Untuk itu kami ingin menjadi anggota Puskowanjati agar selalu mendapat pendampingan,” ujar Ketua Kopwan Cahaya Pertiwi yang juga istri Kepala Desa Gogodeso saat acara dialog yang digelar sebelum kedatangan Bp Syaifullah Yusuf, Wagub Jatim.
Pada kesempatan lain, Bp Bambang, Kepala Dinas Kop dan UMKM Kabupaten Blitar mencoba memotivasi para pengurus Kopwan dengan akan diadakannya lomba.
“Silahkan masing-masing desa berpacu dalam prestasi. Nanti setiap tahun akan dilombakan,”ujarnya saat mengadakan tatap muka dengan pengurus Kopwan yang ada di Kecamatan Kanigoro.
Pada kesempatan yang sama Bp Sutik, Ketua Dekopinda Kabupaten Blitar juga memotivasi para pengurus Kopwan tersebut. Disampaikannya, agar semua pengurus Kopwan tak segan-segan menyampaikan ide kreatif tentang berkoperasi. Kalau selama ini koperasi hanya identik dengan tempat meminjam. Maka di Kopwan ini jadikan yang beda. Dari hasil penelitian, koperasi yang sesuai dengan jatidirinya adalah seperti yang dilakukan Puskowanjati. Mari kita tunjukan kinerja kita seperti yang dilakukan Puskowanjati,” tandasnya.
Diharapkan juga, apa yang telah dilakukan Kopwan Cahaya Pertiwi bisa menjadi contoh bagi Kopwan lainnya. Di Desa Gogodesa ini telah banyak berdiri industri rumahan mulai dari makanan olahan hingga kerajinan. Untuk itu kehadiran Kopwan bisa memberikan solusi bagi mereka dalam masalah permodalan. Bahkan didesa ini diharapkan nantinya akan bisa terbentuk klauster-klauster. Sehingga dengan partisipasi seluruh warganya, ekonomi desa inipun bisa bergerak. Pada akhirnya akan terjadi peningkatan kesejahteraan. (gt)










